
Wakil Presiden Republik Indonesia Dr. HC. Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla menghadiri Sidang Terbuka dalam rangka memperingati Milad ke 58 Universitas Syiah Kuala di Gedung AAC Prof. Dr. Dayan Dawood, MA. Jusuf Kalla hadir untuk menyampaikan orasi ilmiah sekaligus meresmikan gedung baru Project 7 in 1.
Pada kesempatan ini, Jusuf Kalla menyampaikan selamat kepada Unsyiah yang telah 58 tahun berkiprah dalam dunia pendidikan khususnya di Aceh. Menurut JK, usia tersebut adalah usia yang cukup dewasa dalam membina masa depan bangsa. Milad kali ini pun terasa sangat istimewa karena masih dalam suasana tahun baru 1441 H.
“Saya juga mengucapkan selamat tahun baru muharram. Mudah-mudahan suasana Muharram memberikan kita hidayah untuk maju dan berkembang,” ujarnya.
Selain itu, JK juga menilai masyarakat Aceh adalah masyarakat yang sangat dinamis dan terbuka. Hal ini terlihat dengan beberapa perstiwa masa lalu yang menjelaskan betapa heroiknya orang-orang Aceh. Di mulai dari masa kesultanan yang jaya, masa perlawanan pada penjajah, masa konflik, masa damai, masa bencana yang menyita perhatian dunia hingga masa pembangunan seperti sekarang ini.
“Semua itu memberikan gambaran dan dinamika semangat masyarakat Aceh yang luar biasa. Karena itulah di Indonesia ini banyak diperingati pahlawan Aceh yang menjadi jalan-jalan penting, untuk mengingat betapa heroiknya orang Aceh,” ungkap JK.

Pada orasi ilmiahnya, JK mengangkat tema disrupsi teknologi saat ini. Menurutnya, awal dari kemajuan suatu bangsa apabila bangsa tersebut mempunyai pendidikan, riset dan inovasi yang baik. Itulah urutan semangat kemajuan suatu negara.
Oleh sebab itu, era disrupsi teknologi ini harus menjadi perhatian serius. Secara definisi disrupsi adalah perubahan yang mendasar. Ada perubahan yang terjadi secara fundamental dalam abad ini. Di mana orang-orang sering menyebutnya era Revolusi Industri.
“Akibat dari perubahan teknologi itu turut menubah sistem produksi, konsumsi, gaya hidup dan tentu saja mengubah cara kita berkomunikasi. Termasuk pula mengubah sitem pendidikan dan bisnis,” ujarnya.
Perubahan tersebut tidak bisa dihindari. Oleh sebab itu, perguruan tinggi harus menyiapkan dirinya di era disrupsi teknologi ini. Sebab teknologi akan terus berkembang di masa mendatang.
“Universitas harus mampu menggerakkan kelilmuan dengan cara lebih cepat lagi dan jangkaunya lebih luas,” kata JK.
Sementara itu Plt. Gubernur Aceh Ir. Nova Iriansyah, M. Si. juga mengucapkan selamat milad kepada Unsyiah. Sejarah telah mencatat bahwa tanggal 2 September adalah hari yang istimewa bagi masyarakat Aceh. Selain sebagai hari lahirnya Unsyiah, pada tanggal ini juga ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Daerah.
“Mudah-mudahan momentum ini bisa meningkatkan semangat kita untuk memajukan pendidikan Aceh. Mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi sebagaimana cita-cita pendiri kampus Darussalam ini,” ucap Nova.
Sebagai Pimpinan Daerah Aceh, Nova juga merasa bangga karena Unsyiah telah 58 tahun berkiprah dengan melahirkan ratusan ribu sarjana mulai dari program diploma hingga program doktor. Semua itu memberikan kontribusi penting bagi pembangunan Aceh.
“Sebagai perguruan tinggi yang pertama di Aceh, Unsyiah adalah pemasok utama sumber daya manusia terbaik di Aceh, dan Insya Allah akan terus memproduksi generasi unggul bagi bonus demografi bangsa ini,” ucapnya.
Sidang Terbuka ini dipimpin oleh Rektor Unsyiah Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng dan dihadiri oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang Republik Indonesia Dr. Sofyan A. Djalil, S.H., M.A., M.ALD, serta sejumlah pejabat penting lainnya.