USK Sosialisasi Pengendalian Zoonosis dan Penyakit Infeksius Baru

Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Ir. Marwan membuka secara resmi, kegiatan: Sosialisasi dan Rencana Implementasi Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis dan Penyakit Infeksius Baru di Provinsi Aceh. Berlangsung di Hotel Kyriad, Jumat, 20 Oktober 2023.

Sosialisasi ini terselenggara atas kerjasama Fakultas Kedokteran Hewan USK bersama Kemenko PMK dan Kebudayaan RI, DLHK, dan Wildlife Conservation Society (WCS).

“Perubahan iklim menyebabkan banyaknya penyakit infeksius baru, atau jenis penyakit lama yang kini kembali ada. Maka kegiatan seperti ini menjadi langkah antisipasi kita bersama,” kata Prof Marwan.

Menurutnya, dalam menanggulangi zoonosis maupun penyakit infeksius sangat perlu langkah antisipatif sebelum, sedang, bahkan sesudah. Dengan demikian, segala kemungkinan buruk dapat diminimalisir.

“Aspek kesehatan sesungguhnya menyangkut semua pihak. Maka kolaborasi lintas profesi dan stakeholder menjadi kunci. Kasus PMK pada hewan kemarin waktu yang sempat ramai, Aceh alhamdulillah termasuk yang paling cepat tertangani, ini bukti adanya kolaborasi, dan utamanya hadirnya akademisi,” ujar Rektor.

Dekan FKH USK, drh. Teuku Reza Ferasyi, M.Sc., Ph.D menyampaikan, forum tersebut menjadi sarana untuk menyamakan, sekaligus integrasi dari Permenko PMK dan Kebudayaan No 7 tahun 2022 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis dan Penyakit Infeksius Baru.

“Ini menjadi bagian dari implementasi, serta integrasi dari permenko tersebut. Adanya diskusi, rekomendasi, serta mendengarkan success story dari berbagai pihak,” ungkapnya.

Sementara itu, Program Manager WCS untuk Aceh dan Sumatera Utara, Ina Nisrina mengatakan, pihaknya percaya bahwa pelestarian hutan dan satwa liar di Aceh tidak dapat berjalan sendiri, untuk itu WCS bersama BKSDA dan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, serta pihak terkait terus berkolaborasi.

“Saat ini kami sedang kencang-kencangnya memasukan indikator konservasi dan satwa liar ke dalam rencana pembangunan Aceh 20 tahun kedepan. Namun butuh dukungan semua pihak. Sehingga pencegahan zoonosis maupun penyakit infeksius bisa terintegrasi,” sebut Ina.

Leave a Reply