Universitas Syiah Kuala (USK) terus memperkuat komitmennya dalam transformasi digital pendidikan tinggi. Komitmen tersebut diwujudkan dengan kehadiran Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan, Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH, pada kegiatan Google for Education Higher Education Leader Series yang berlangsung di Google Singapore Office, Rabu, 24 Juni 2026.
Forum bertema The Science and Strategy of the AI-Powered University ini mempertemukan lebih dari 70 pimpinan perguruan tinggi dari 10 negara di kawasan Asia Pasifik. Para peserta mendiskusikan berbagai strategi implementasi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) untuk memperkuat pembelajaran, mempercepat inovasi riset, serta meningkatkan tata kelola perguruan tinggi di era transformasi digital.
Salah satu pembahasan utama dalam forum tersebut adalah perubahan paradigma pemanfaatan AI di lingkungan perguruan tinggi. AI tidak lagi dipandang sekadar sebagai alat bantu, tetapi sebagai Pedagogical AI yang mampu mendukung pembelajaran aktif, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, serta mengembangkan metakognisi mahasiswa melalui pendekatan berbasis learning science. Pendekatan ini menempatkan AI sebagai teknologi yang memperkaya proses belajar tanpa mengurangi peran sentral dosen dalam membimbing mahasiswa.
Di bidang penelitian, AI dinilai memiliki potensi besar dalam mempercepat analisis data, memperkuat kolaborasi lintas disiplin, dan mendorong lahirnya inovasi. Namun demikian, para peserta juga menekankan pentingnya menjaga integritas akademik di tengah meningkatnya tantangan terkait plagiarisme, bias AI, serta keaslian karya ilmiah.
Karena itu, pendekatan Human-in-the-Loop menjadi salah satu prinsip yang ditekankan dalam forum tersebut. Melalui pendekatan ini, AI berfungsi sebagai co-pilot yang membantu proses pembelajaran dan penelitian, sedangkan dosen maupun peneliti tetap menjadi pengambil keputusan utama yang memastikan kualitas akademik, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan tetap terjaga.

Menurut Dr. Rina Suryani Oktari, forum ini memberikan perspektif strategis mengenai arah transformasi pendidikan tinggi di tingkat global. Selain menjadi ajang berbagi pengalaman, forum tersebut juga membuka peluang kolaborasi antara pimpinan perguruan tinggi dalam mengembangkan pemanfaatan AI yang bertanggung jawab.
“Transformasi AI bukan lagi sekadar adopsi teknologi, tetapi bagaimana universitas membangun ekosistem pembelajaran, riset, dan tata kelola yang terintegrasi, berintegritas, dan tetap berpusat pada manusia. AI harus menjadi mitra yang memperkuat kapasitas sivitas akademika, bukan menggantikan peran manusia,” ujarnya.
Ia menambahkan, diskusi bersama para pimpinan perguruan tinggi di kawasan Asia Pasifik menunjukkan bahwa tantangan pendidikan tinggi saat ini bukan lagi apakah AI akan digunakan, melainkan seberapa cepat institusi mampu mengintegrasikan AI secara bertanggung jawab ke dalam seluruh ekosistem universitas.
Keikutsertaan USK dalam forum ini menjadi bagian dari upaya universitas memperluas jejaring internasional sekaligus mengadopsi praktik-praktik terbaik dalam transformasi pendidikan tinggi berbasis teknologi. Langkah tersebut diharapkan semakin memperkuat kualitas pembelajaran, riset, dan tata kelola universitas, serta mempersiapkan lulusan yang adaptif, inovatif, dan siap menghadapi perkembangan teknologi di masa depan.