Dalam situasi darurat bencana, perhatian sering terfokus pada penanganan fisik dan logistik. Namun, pemulihan psikologis memegang peran krusial yang tidak boleh diabaikan. Kesadaran ini mendasari partisipasi aktif mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Syiah Kuala (USK) dalam kegiatan simulasi Disaster Day yang berlangsung di Fakultas Kedokteran USK, Minggu (9/11).
Kegiatan ini merupakan bagian dari praktikum mata kuliah Psikologi Bencana yang dikoordinir oleh Zaujatul Amna, S.Psi., M.Sc., dan dikembangkan melalui pendekatan Interprofessional Education (IPE). IPE melibatkan kolaborasi mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu kesehatan, termasuk Kedokteran, Kedokteran Gigi, Keperawatan, Farmasi, dan Psikologi.
Dalam skenario bencana banjir bandang, mahasiswa Psikologi berperan sebagai tim terdepan yang memberikan Psychological First Aid (PFA) atau Pertolongan Psikologis Awal. PFA adalah intervensi non-klinis yang bertujuan memberikan dukungan emosional, menumbuhkan rasa aman, dan membantu korban kembali berpikir rasional di tengah krisis.
“Kesiapsiagaan bencana tidak hanya terkait penanganan fisik, tetapi juga kesiapan mental. PFA menjadi dasar penting dalam mendampingi individu yang terdampak,” jelas Zaujatul Amna.
“Melalui simulasi ini, mahasiswa belajar untuk hadir secara empatik, mendengarkan aktif, dan memahami bahwa dukungan emosional adalah fondasi kritis bagi proses pemulihan.”
Selama simulasi, mahasiswa Psikologi dihadapkan pada berbagai dinamika psikologis korban, mulai dari kepanikan, kebingungan, hingga kelelahan emosional. Mereka mengasah keterampilan PFA dengan mengamati kondisi korban, menghubungkannya dengan sumber dukungan, dan menciptakan lingkungan yang aman.
Pendekatan IPE dalam Disaster Day juga menumbuhkan kesadaran bahwa penanganan korban memerlukan sinergi antarprofesi. Setiap bidang keilmuan memiliki kontribusi yang saling melengkapi dalam menciptakan sistem respons bencana yang efektif dan manusiawi.
Ketua Lapangan kegiatan dari Program Studi Psikologi, Fadilah Amanda Putri, mengungkapkan bahwa pengalaman ini memberikan pembelajaran kemanusiaan yang mendalam.
“Simulasi ini membuka wawasan kami tentang bagaimana menghadapi manusia dalam kondisi paling rapuh. Kami belajar untuk tidak terburu-buru memberikan solusi, tetapi hadir, mendengarkan, dan menenangkan dengan empati,” ungkap Fadilah.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Psikologi USK tidak hanya mengasah keterampilan teknis PFA, tetapi juga menumbuhkan ketangguhan mental, empati, dan profesionalisme. Disaster Day menjadi langkah konkret USK dalam menyiapkan calon psikolog yang kompeten, tangguh menghadapi dinamika lapangan, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.