Universitas Syiah Kuala (USK) terus memperkuat komitmennya menuju rekognisi internasional melalui riset dan pengabdian yang berdampak langsung bagi masyarakat. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui implementasi teknologi deteksi kecemasan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Puskesmas Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Senin (4 Mei 2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program strategis Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition (EQUITY) yang bertujuan meningkatkan posisi USK dalam Times Higher Education (THE) Impact Rankings. Program tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ketiga tentang kehidupan sehat dan sejahtera melalui peningkatan kesadaran kesehatan mental bagi penyintas bencana akhir 2025.
Selain itu, inovasi teknologi berbasis AI-powered Electroencephalography (EEG) ini turut mendukung penguatan aspek inovasi dan infrastruktur sebagaimana tertuang dalam SDGs ke-9.
Untuk memperluas dampak sekaligus memperkuat kolaborasi akademik internasional, USK menggandeng akademisi dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM), AP Dr. Norma Alias dari Departemen Matematika, Fakultas Sains dan Pusat Pendidikan Teknik.
Di lapangan, kegiatan ini turut didampingi tim multidisiplin USK yang terdiri dari Dr. Hendrik Leo, S.T., M.T., Muharratul Mina Rizky, S.Kom., M.T., serta Dahlia, S.Psi., M.Sc.
Pendekatan kepada masyarakat dilakukan secara sistematis melalui pemberian psikoedukasi terkait kecemasan pada penyintas bencana. Selanjutnya, warga menjalani perekaman gelombang otak menggunakan teknologi EEG berbasis AI yang mampu memvisualisasikan sinyal otak secara langsung pada layar monitor sekaligus memberikan evaluasi tingkat kecemasan yang dialami.
Ketua Tim Pengabdian USK, Prof. Dr. Ir. Roslidar, S.T., M.Sc., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan harapannya agar kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata sekaligus meningkatkan pemahaman psikologis masyarakat, khususnya bagi para penyintas bencana.
“Saya berharap pengabdian ini bermanfaat dan memberikan edukasi psikologis yang bermanfaat bagi masyarakat terutama bagi para penyintas bencana,” ujarnya.
Salah seorang peserta mengaku mengalami tingkat kecemasan tinggi setelah mengikuti skrining menggunakan psikotes dan teknologi AI-powered EEG. Kondisi tersebut dipicu oleh besarnya beban yang harus ditanggung dalam membantu warga terdampak bencana.
“Hasil skrining melalui psikotest dan alat AI-powered EEG menunjukkan saya mengalami kondisi kecemasan yang tinggi karena banyaknya beban dari warga terdampak bencana yang harus saya tampung pasca bencana,” ujarnya.
Program kolaboratif yang juga menjadi bagian dari KKN Tematik mahasiswa USK ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya melalui Dinas Kesehatan setempat.
Koordinasi lintas sektor tersebut diharapkan tidak hanya menjadi langkah awal mitigasi kecemasan yang efektif bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bukti nyata kontribusi USK dalam menjawab isu-isu global secara berkelanjutan melalui inovasi teknologi dan pengabdian kepada masyarakat.