Universitas Syiah Kuala

USK Hadirkan Pakar Korea, Bahas Mangrove, Blue Carbon, dan Masa Depan Pesisir Aceh

(Banda Aceh, 28 April 2026) – Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) menghadirkan sejumlah pakar dari Korea Selatan dalam workshop bertema Silvofishery and Blue Carbon yang digelar di Aula Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) USK, Banda Aceh, Selasa (28 April 2026).

Kegiatan ini menjadi ruang strategis pertukaran pengetahuan global dalam memperkuat pengembangan ekosistem mangrove, pesisir, dan kehutanan berkelanjutan di Aceh.

Workshop ini menghadirkan akademisi dan praktisi dari berbagai institusi di Korea Selatan yang memaparkan pengalaman serta inovasi terbaru di bidang kehutanan, geospasial, hingga pengelolaan lingkungan berbasis teknologi.

Pada sesi pertama, Min-kyu Moon dari Kangwon National University memaparkan riset pemetaan mangrove di Bali menggunakan citra satelit resolusi tinggi. Ia menjelaskan pemanfaatan kombinasi Landsat 8, Planet Scope, serta Sentinel-2 untuk menghasilkan analisis spasial yang lebih akurat. Dengan pendekatan tersebut, perubahan tata guna lahan mangrove selama periode 2020–2024 dapat dipetakan secara detail, termasuk membedakan mangrove dengan vegetasi pesisir lainnya.

Selain itu, model analisis diperkuat dengan pendekatan Hidden Markov Model sehingga mampu menghasilkan citra yang lebih tajam dan meningkatkan akurasi interpretasi data. Menurutnya, teknologi ini sangat potensial untuk mendukung pengelolaan mangrove secara berkelanjutan di Indonesia.

Sesi berikutnya disampaikan oleh Myong-jun Kim yang membahas pemanfaatan drone dan sistem Geographic Information System (GIS) dalam mendeteksi longsor. Ia memaparkan pengalaman pemetaan di 21 kawasan taman nasional di Korea dengan menggunakan drone resolusi tinggi.

Menurutnya, perubahan tutupan lahan seperti munculnya area bare land dapat menjadi indikator awal terjadinya longsor. Selain itu, teknologi ini juga mampu mendeteksi kerusakan kanopi hutan yang berkaitan dengan penyakit atau gangguan ekosistem. Data tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai peta tematik yang mendukung rehabilitasi dan mitigasi bencana secara lebih cepat dan akurat.

Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan kecerdasan buatan dalam analisis data spasial, guna menjawab tantangan pascabencana seperti kebutuhan rehabilitasi lahan, restorasi vegetasi, hingga rekonstruksi lereng.

Sementara itu, Direktur Asia Forest Institute, Jong-woon Kim, memaparkan transformasi pembangunan kehutanan di Korea Selatan melalui pendekatan forest wellness. Ia menjelaskan bagaimana Korea berhasil bangkit dari kondisi hutan gundul pada 1960-an menjadi negara dengan tutupan hutan yang sehat dan berkelanjutan.

Melalui kebijakan strategis seperti Education Promotion Act dan Forest Wellness Act, hutan tidak hanya berfungsi sebagai sumber daya alam, tetapi juga sebagai sarana pemulihan kesehatan fisik dan mental masyarakat. Pendekatan ini terbukti memberikan dampak ekonomi signifikan serta membuka peluang kerja baru di sektor kehutanan berbasis jasa.

Dalam sesi diskusi, Jong-woon Kim menilai Aceh memiliki potensi besar untuk mengadopsi pendekatan serupa. Ekosistem mangrove dan pesisir di Aceh dinilai mampu menjadi fondasi dalam membangun ketahanan lingkungan, menyerap karbon biru, serta menciptakan sinergi antara sektor kelautan dan kehutanan.

Workshop ini menegaskan bahwa pembangunan masa depan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus mengintegrasikan teknologi, restorasi alam, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.