Universitas Syiah Kuala

USK Gelar Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026, Hadirkan Dialog Seni dan Budaya Lintas Negara

Universitas Syiah Kuala (USK) kembali memperkuat perannya sebagai ruang akademik yang mendorong kreativitas, kebudayaan, dan kolaborasi internasional melalui Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026. Pameran bertema “Cultural Nuances” ini resmi dibuka di Gedung Pascasarjana USK, Banda Aceh, dan berlangsung pada 7–10 Oktober 2026.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Sanggar Seni Rupa Trimatra bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala melalui Global Engagement Office (GEO), dengan dukungan sejumlah mitra, di antaranya Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Bank Aceh.

Menghadirkan karya dari seniman berbagai negara, pameran ini menjadi ruang pertemuan lintas budaya yang mempertemukan seni, pendidikan, kebudayaan, serta jejaring kolaborasi internasional. Sebanyak 30 seniman dari 14 negara berpartisipasi dalam pameran ini, termasuk dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, Jepang, India, Pakistan, Sri Lanka, China, Myanmar, Tajikistan, dan Prancis, serta para seniman dari berbagai daerah di Indonesia.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Prof. Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH, menyampaikan apresiasi kepada Trimatra dan GEO USK atas terselenggaranya pameran tersebut. Menurutnya, kehadiran pameran seni internasional di lingkungan perguruan tinggi memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menampilkan karya seni.

“Universitas seharusnya tidak hanya menjadi tempat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan profesional, tetapi juga ruang di mana kreativitas, budaya, imajinasi, dan nilai-nilai kemanusiaan dapat tumbuh,” ujar Prof. Okta.

Pameran ini juga menjadi bagian dari perjalanan Sanggar Seni Rupa Trimatra dalam membangun jejaring seni dan kebudayaan. Kegiatan tersebut digagas oleh seniman Aceh Restu Wardhana, S.Sn., yang merupakan penggerak utama Trimatra.

Menurut Restu, pameran ini tidak hanya menjadi ruang untuk menghadirkan karya seni, tetapi juga merupakan bagian dari proses membangun hubungan, menjaga kepercayaan, membuka komunikasi, serta memperluas ruang perjumpaan antarseniman. Semangat kolaborasi tersebut menjadi salah satu fondasi dalam membangun jejaring seni Trimatra hingga ke tingkat internasional.

Ia menjelaskan bahwa pemilihan tema “Cultural Nuances” berangkat dari perhatian terhadap berbagai detail kebudayaan yang kerap luput dari perhatian. Kebudayaan tidak hanya hadir melalui tradisi atau simbol yang tampak, tetapi juga hidup melalui pengalaman masyarakat, lanskap, ingatan kolektif, serta cara manusia memberikan makna terhadap kehidupannya.

Melalui karya seni, berbagai nuansa tersebut diterjemahkan ke dalam perspektif dan ekspresi yang beragam. Pertemuan karya dari berbagai negara dalam satu ruang pameran memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk melihat bagaimana budaya dipahami, dirasakan, dan direpresentasikan oleh seniman dengan latar belakang yang berbeda.

Kehadiran Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 di lingkungan USK juga membuka ruang pembelajaran bagi mahasiswa dan sivitas akademika. Mereka tidak hanya ditempatkan sebagai penikmat karya, tetapi juga didorong untuk melihat seni dan kebudayaan sebagai bagian dari proses pembelajaran, pertukaran gagasan, dan pengembangan jejaring global.

Melalui interaksi dengan seniman dari berbagai negara, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengenal perspektif budaya yang beragam sekaligus memahami pentingnya kolaborasi lintas batas di tengah dunia yang semakin terhubung.

Pameran ini menegaskan bahwa kolaborasi budaya dapat menjadi bagian penting dari pendidikan. Seni menjadi medium yang memungkinkan perbedaan tidak hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk dipertemukan melalui dialog, kreativitas, dan pengalaman bersama.

Dengan menggabungkan kekuatan seni, kebudayaan, pendidikan, dan jejaring internasional, Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 diharapkan dapat memperluas ruang interaksi budaya di Aceh sekaligus memperkuat posisi USK sebagai institusi akademik yang terbuka terhadap kolaborasi dan pertukaran gagasan di tingkat global.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran lintas budaya, SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui pelestarian dan apresiasi terhadap warisan budaya, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara USK, Trimatra, seniman internasional, dan berbagai mitra dalam memperkuat jejaring seni dan budaya global.