Universitas Syiah Kuala (USK) menegaskan komitmennya dalam mendukung transformasi pembangunan kesehatan nasional melalui penguatan Sistem Kesehatan Akademik (SKA). Hal ini disampaikan dalam Forum Kolaborasi Penguatan SKA Wilayah I yang digelar di USK, dengan menghadirkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), pemerintah daerah, serta mitra rumah sakit. Banda Aceh, 5 September 2025.
Forum ini menjadi bagian dari implementasi Program Akselerasi Pemenuhan dan Distribusi Dokter Spesialis/Subspesialis yang resmi diluncurkan Kemendikbudristek pada Juli 2025. Program strategis ini bertujuan mempercepat pemenuhan serta pemerataan tenaga medis di seluruh Indonesia melalui integrasi peran perguruan tinggi dan rumah sakit.
Dirjen Dikti, Prof. Khairul Munadi, menyebutkan bahwa program ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden RI yang menjadikan pemenuhan tenaga medis sebagai quick wins pembangunan nasional.
“SKA hadir sebagai model kemitraan strategis untuk memperkuat kemandirian wilayah melalui ekosistem yang saling mendukung,” ujarnya.
Dekan FK USK, Dr. dr. Safrizal Rahman, Sp.OG(K). menyampaikan bahwa USK melalui Fakultas Kedokteran siap menambah enam program studi baru, yakni tiga spesialis-1 (Bedah Saraf, Kesehatan Mata, Bedah Anak) serta tiga subspesialis (Bedah Digestif, Jantung dan Pembuluh Darah, serta Obstetri dan Ginekologi).
“FK USK saat ini telah memiliki 27 program studi, termasuk 19 prodi spesialis dan satu subspesialis. Kami juga sudah menerima mahasiswa internasional, seperti dari Palestina dan Korea Selatan. Namun, tentu masih ada tantangan yang harus kita hadapi bersama, baik dari sisi sarana, sumber daya dosen, hingga komitmen rumah sakit dalam mendukung pendidikan,” jelas Dr. dr. Safrizal Rahman,
Rektor USK, Prof. Dr. Ir. Marwan, menegaskan pentingnya kolaborasi erat antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah agar jumlah peserta program pendidikan dokter spesialis (PPDS) dapat terus ditingkatkan.
“USK melihat masih banyak ruang untuk memperluas jumlah peserta PPDS. Hal ini hanya dapat terwujud melalui kemitraan yang kuat dengan pemerintah daerah,” ujar Prof Marwan.
Dukungan nyata datang dari Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, yang melalui RSUD Dr. Meuraxa berkomitmen memperkuat pendidikan kedokteran dengan memangkas biaya retribusi pendidikan hingga 70 persen, bahkan nol rupiah untuk program spesialis.
Dengan langkah ini, USK semakin meneguhkan perannya sebagai pusat pengembangan pendidikan kedokteran unggulan di wilayah barat Indonesia. Melalui SKA, diharapkan lahir tenaga medis berkualitas, relevan dengan kebutuhan lokal, dan siap menjawab tantangan global.