Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Office of International Affairs bekerja sama dengan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) sukses menyelenggarakan program summer course internasional bertajuk “Sustainable Urban Living: Integrating Green Practices, Community Engagement, and Climate Action 2026” pada 27 April–10 Mei 2026.
Program yang berlangsung secara hybrid ini memadukan rangkaian kegiatan daring dan luring dengan melibatkan 20 peserta yang terdiri atas mahasiswa dari kedua universitas. Pelaksanaan kegiatan tersebut turut mendapat dukungan dari Program World Class University (WCU) USK melalui pendanaan EQUITY sebagai bagian dari komitmen universitas dalam memperkuat internasionalisasi kampus, memperluas jejaring kolaborasi global, serta mendorong pengembangan pendidikan dan isu keberlanjutan lingkungan di tingkat internasional.
Mengangkat tema kehidupan perkotaan berkelanjutan, program ini bertujuan meningkatkan pemahaman peserta mengenai pentingnya integrasi praktik hijau, keterlibatan masyarakat, serta aksi nyata dalam menghadapi perubahan iklim. Selain menjadi ruang pembelajaran akademik, summer course ini juga menjadi wadah pertukaran budaya dan pengalaman antara mahasiswa Indonesia dan Malaysia.
Selama program berlangsung, peserta mengikuti berbagai sesi kuliah dan diskusi interaktif yang menghadirkan narasumber dari Universiti Teknologi Malaysia, Dr. Ahmad Fadhil Yusof. Beragam materi dibahas dalam kegiatan tersebut, di antaranya Community-based Waste Management Practices, Green Sustainable Practices, Waste Management/Recycling, serta berbagai isu terkait pembangunan berkelanjutan dan pengelolaan lingkungan.

Tidak hanya mengikuti kegiatan akademik, para peserta juga melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah lokasi di Aceh guna melihat secara langsung implementasi konsep keberlanjutan di masyarakat. Beberapa lokasi yang dikunjungi antara lain Atsiri Research Center, Bank Sampah USK, KamiKita Community Center, serta Kebun Mint yang dikenal sebagai pusat urban farming hidroponik dan edukasi budidaya tanaman bagi masyarakat.
Program ini juga memperkenalkan peserta pada kekayaan budaya dan sejarah Aceh melalui kunjungan ke Taman Putroe Phang, Gunongan, Museum Aceh, Benteng Indra Patra, serta Dekranasda Aceh. Selain itu, peserta turut mengunjungi Desa Lubok Sukon dan Gampong Nusa untuk mempelajari pengembangan desa wisata dan pemberdayaan masyarakat lokal berbasis komunitas.
Sebagai bagian dari pembelajaran mengenai kesadaran lingkungan dan mitigasi bencana, peserta juga diajak mengunjungi sejumlah situs tsunami bersejarah di Aceh, seperti PLTD Apung dan Museum Tsunami Aceh. Melalui kunjungan tersebut, peserta memperoleh pemahaman lebih mendalam mengenai pentingnya pembangunan berkelanjutan, ketangguhan masyarakat, serta kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Rangkaian kegiatan summer course ditutup melalui closing ceremony yang diisi dengan presentasi hasil diskusi dan proyek kelompok peserta. Dalam sesi tersebut, setiap kelompok memaparkan ide dan solusi inovatif terkait isu keberlanjutan perkotaan berdasarkan materi serta pengalaman yang diperoleh selama program berlangsung.
Kegiatan kemudian diakhiri dengan penyerahan sertifikat kepada seluruh peserta sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka dalam program internasional tersebut. Program ini diharapkan dapat memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang peduli terhadap isu keberlanjutan dan aksi iklim global.