Universitas Syiah Kuala (USK) dan Universitas Sumatera Utara (USU) berkolaborasi menghadirkan inovasi unik di SMA Labschool USK Banda Aceh. Kolaborasi dua institusi ini menghasilkan inovasi sabun cair bebas alergen berbahan minyak atsiri dari limbah kulit kulit jeruk nipis.
Produk ini tak hanya higienis, dan ramah lingkungan tetapi juga bernilai ekonomi.Tim dosen yang terlibat dalam kegiatan ini yaitu dari Fakultas Farmasi USU Prof. Dr. apt. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, S.Si, M.Si; apt. Muhammad Fauzan Lubis, S.Farm, M.Farm; apt. Nur Aira Juwita, S.Farm, M.Si; dan apt. Nurul Suci, S.Farm, M.Farm., bekerja sama dengan dosen dari FMIPA USK, yaitu dari Jurusan farmasi apt. Didi Nurhadi Illian, S.Farm, M.Si.
Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan skill wirausaha dan literasi sains siswa melalui pendekatan praktis yang menggabungkan ilmu pengetahuan dengan potensi lokal. Kegiatan ini menggunakan metode Community Based Interactive Approach (CBIA) yang terdiri dari tiga tahap, yakni persiapan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi.
Pada tahap awal, siswa mendapat edukasi tentang potensi limbah kulit jeruk nipis yang kaya minyak atsiri dengan sifat antibakteri alami dan aroma segar khas jeruk, sehingga menumbuhkan kesadaran lingkungan sekaligus memicu kreativitas dalam mengolah limbah.
Selanjutnya, siswa mempraktikkan langsung proses pemurnian minyak atsiri di laboratorium sekolah dan memformulasikannya menjadi sabun cair bebas alergen, sebuah produk higienis yang aman untuk kulit sensitif dan ramah lingkungan.
Sabun cair hasil karya siswa kemudian dievaluasi melalui berbagai uji ilmiah. Dari uji organoleptik, sabun memiliki warna kuning muda, aroma jeruk nipis segar, dan bentuk yang sedikit kental. Nilai pH rata-rata 5,79 berada pada rentang aman bagi kulit.
Uji hedonik memperlihatkan penerimaan sangat baik dengan 100% responden menyukai tekstur, 100% menyukai aroma, dan 100% menyukai warna sabun. Uji iritasi juga membuktikan sabun aman digunakan karena tidak menimbulkan iritasi pada kulit.
Yang tak kalah penting, uji anti bakteri menggunakan metode difusi cakram menunjukkan adanya zona hambat terhadap bakteri Escherichia coli sebesar 9,75 mm dan terhadap Staphylococcus aureus sebesar 6,88 mm, sehingga sabun cair ini tidak hanya berfungsi sebagai pembersih, tetapi juga memiliki manfaat fungsional sebagai agen antibakteri alami.
Selain menghasilkan produk yang berkualitas, kegiatan ini juga berdampak signifikan terhadap peningkatan keterampilan siswa. Berdasarkan hasil evaluasi pembelajaran, terjadi peningkatan rata-rata pemahaman dari nilai pre-test ke post-test.
Hal ini menunjukkan bahwa siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga menguasai praktek nyata dalam memanfaatkan bahan alam menjadi produk bernilai ekonomi.
Peningkatan ini menjadi indikator keberhasilan kegiatan dalam membekali siswa keterampilan kewirausahaan berbasis sains.Kegiatan pengabdian masyarakat ini membuktikan bahwa pemanfaatan limbah sederhana seperti kulit jeruk nipis mampu melahirkan produk inovatif yang bermanfaat.
Bagi siswa, pengalaman ini bukan hanya tentang membuat sabun cair, melainkan juga pelajaran berharga tentang pentingnya inovasi, kepedulian lingkungan, serta keterampilan wirausaha sebagai bekal menghadapi masa depan.