Para petani garam di Gampong Garuda Kuala Gigieng kini memiliki harapan baru. Berkat inisiatif pengabdian masyarakat dari tim dosen Universitas Syiah Kuala (USK), mereka tidak lagi hanya menjual garam mentah, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah: sabun cuci piring.
Kegiatan yang didanai oleh Direktorat Pemberdayaan dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing garam lokal sekaligus membuka peluang usaha baru bagi para petani.
Tim ini diketuai Dr. Vicky Prajaputra, M.Si, dosen Program Studi Ilmu Kelautan USK, melibatkan anggota tim pengabdi Adinda Gusti Vonna, S.P., M.Si (Agribisnis), Apt. Fajar Fakri, S.Farm., M.S.Farm (Farmasi), dan Ulil Amri Mc, S.Pi., M.Si (Ilmu Kelautan), serta mahasiswa lintas program studi. Mereka mendampingi para petani dalam serangkaian proses, mulai dari hulu hingga hilir.
Tahap awal pendampingan dimulai dari proses dasar: mengubah garam krosok yang bertekstur kasar menjadi garam halus yang lebih seragam dan memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Para petani dilatih cara pencacahan yang efektif. Tidak berhenti di sana, mereka juga dibekali dengan pelatihan pengemasan produk. Dengan desain yang lebih menarik, garam lokal kini memiliki citra yang lebih profesional di pasaran,” ungkap Vicky.
Di luar urusan teknis, tim pengabdi juga memberikan pembekalan manajemen usaha dan pendampingan pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk merek dagang. Langkah ini penting untuk memberikan perlindungan hukum dan memperkuat posisi produk di pasar.
“Kegiatan ini merupakan wujud nyata kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Kami ingin mengangkat potensi garam lokal agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” tuturnya.

Diversifikasi Produk Menjadi Sabun Cuci Piring
Puncak dari program ini adalah inovasi pembuatan sabun cuci piring berbasis garam. Sejak Agustus 2025, para petani dilatih secara langsung untuk mengolah garam menjadi bahan utama sabun. Prosesnya meliputi pencampuran bahan hingga pengemasan produk akhir.
“Selama ini petani hanya fokus pada produksi garam mentah. Melalui pendampingan USK, kami sekarang mendapatkan pengetahuan baru untuk mengolah garam menjadi produk bernilai lebih tinggi,” ujar Junaidi, Ketua Mitra Petani Garam.
Menurut Adinda Gusti Vonna, salah satu anggota tim pengabdian, sabun ini diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan yang signifikan bagi kelompok petani. Tim pengabdi pun menyerahkan serangkaian alat dan bahan pembuatan sabun agar para petani dapat melanjutkan usaha ini secara mandiri.
Dengan dukungan dari DPPM Kemdiktisaintek dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USK, program ini tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga membangkitkan motivasi para petani.
“Inovasi ini akan menjadi pemicu bagi produk-produk berbasis garam lainnya, serta menjaga keberlanjutan produksi garam lokal sebagai komoditas unggulan daerah,” harap Adinda.