Universitas Syiah Kuala

USK Bahas SDGs 12 dan 13 untuk Penguatan Peran Kampus dalam Mitigasi Perubahan Iklim

Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar Focus Group Discussion (FGD) dan diseminasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang membahas implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau United Nations Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 12 tentang Responsible Consumption and Production serta SDGs 13 tentang Climate Action. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Ayani, Banda Aceh, pada 5 Maret 2026.

FGD tersebut mengangkat tema “Peran Perguruan Tinggi dalam Meningkatkan Kesadaran Masyarakat dalam Pengelolaan Sumber Daya, Mitigasi, dan Adaptasi Perubahan Iklim.” Kegiatan ini dibuka oleh Direktur Direktorat Pendidikan dan Pembelajaran USK, Prof. Dr. Ir. Nasaruddin, S.T., M.Eng., dan menghadirkan dua narasumber, yakni Ir. Suraiya, S.T., M.T. dari USK serta Mia Siscawati, Ph.D. dari Universitas Indonesia.

Ketua Panitia, Dr. Dra. Sulastri, M.Si., mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan FGD kelima yang diselenggarakan USK dalam rangka memperkuat implementasi SDGs di lingkungan kampus.

Menurutnya, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program yang bertujuan meningkatkan kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

“Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada satu tujuan pembangunan berkelanjutan, tetapi menjadi bagian dari delapan program prioritas yang dirancang untuk memperkuat posisi USK agar sejajar dengan perguruan tinggi global,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa diskusi dalam forum tersebut sangat bermanfaat untuk pengembangan kegiatan akademik, baik dalam bentuk riset maupun pengabdian kepada masyarakat. Melalui forum ini diharapkan lahir berbagai kajian akademik yang dapat mendorong peningkatan kesadaran dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

“Melalui kegiatan ini kita ingin merumuskan strategi yang memudahkan penyusunan rencana aksi. Harapannya, hasil diskusi tidak hanya berhenti pada dokumen tertulis, tetapi benar-benar dapat diwujudkan dalam bentuk program nyata,” katanya.

Sementara itu, Ketua Program Equity USK, Prof. Dr. drh. Muslim Akmal, M.P., menyampaikan bahwa reputasi USK saat ini terus menunjukkan perkembangan yang positif. Hal ini terlihat dari keberhasilan universitas tersebut menembus sejumlah pemeringkatan internasional.

Ia menjelaskan bahwa USK berhasil masuk pada peringkat 601–800 dunia dalam Times Higher Education Impact Rankings 2025. Dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang dinilai, dua di antaranya berhasil menembus 100 besar dunia, yaitu SDGs 4 (Quality Education)pada peringkat 66 duniadanSDGs 14 (Life Below Water)pada peringkat79 dunia.

Selain itu, USK juga untuk pertama kalinya berhasil masuk dalam QS World University Rankingsdengan posisi1401+ dunia.

“Capaian ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh sivitas akademika USK yang terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Nasaruddin menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu upaya USK untuk terus meningkatkan kualitas dan mutu institusi. Menurutnya, mutu perguruan tinggi tidak hanya dinilai secara internal, tetapi juga perlu diukur secara objektif melalui lembaga independen.

Ia menjelaskan bahwa pengukuran mutu perguruan tinggi saat ini juga berkaitan erat dengan kontribusi institusi dalam mendukung implementasi SDGs yang telah diakui secara global.

“Pengukuran mutu perguruan tinggi idealnya dilakukan oleh pihak ketiga yang independen, salah satunya melalui penilaian yang berkaitan dengan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs,” katanya.

Menurutnya, FGD ini menjadi sangat penting karena secara khusus membahas dua tujuan pembangunan berkelanjutan yang sangat relevan dengan kondisi saat ini, yaitu SDGs 12 tentang Responsible Consumption and Production serta SDGs 13 tentang Climate Action.

Ia menambahkan bahwa kedua isu tersebut sangat berkaitan dengan kondisi lingkungan di Aceh yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi berbagai tantangan, termasuk meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim.

Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam memberikan kontribusi ilmiah untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat.

Meski perguruan tinggi bukan merupakan lembaga pembuat kebijakan, hasil kajian ilmiah yang dihasilkan oleh akademisi sering kali menjadi rujukan penting bagi para pengambil kebijakan dalam merumuskan berbagai program pembangunan.

“Rekomendasi yang lahir dari universitas biasanya memiliki bobot akademik yang kuat sehingga menjadi pertimbangan penting bagi para pemangku kebijakan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, USK berharap dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam upaya meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan serta penguatan langkah-langkah mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program yang didukung oleh Program EQUITY Universitas Syiah Kuala Tahun 2025–2026 dengan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Melalui dukungan tersebut, diharapkan berbagai program akademik, riset, dan pengabdian kepada masyarakat dapat semakin memberikan dampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan, baik di tingkat daerah maupun global.

https://bkpsdm.tubankab.go.id/ https://siakad.uinbanten.ac.id/ https://centrodeservicio.ecci.edu.co/ecci/ https://linktr.ee/pisangbetslot https://daftartotosuper.com/ https://ingattotokl.com/ https://toto-kl.rpg.co.id/ https://mez.ink/totosuper.idn pisangbet https://baidich.com/rewards/ https://fib.unair.ac.id/fib/ https://aheartfulloflove.com/service