
Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) bekerjasama dengan Pemerintah Aceh dan Bank Aceh menggelar seminar Perbankan Syariah bertema Bank Syariah di Nanggroe Syariah yang berlangsung di Balai Senat Unsyiah, Kamis (23/6).
Seminar yang dibuka langsung oleh Gubernur Aceh, Dr. Zaini Abdullah tersebut menghadirkan beberapa pemateri yaitu, Azhari, S.E M.Si (Asisten II Setda Aceh) Adnan Ganto, MBA (Praktisi Perbankan/Penasehat Menteri Pertanahan Bidang Ekonomi), Haizir Sulaiman (Direktur Bank Aceh Syariah), Achmad Wijaya Putra (Kepala Perwakilan OJK Aceh), Dr. M. Shabri, SE., M.Ec (Ketua Prodi Ekonomi Islam Unsyiah), Waled Marhaban Bakongan (Ulama Aceh), dan Prof. Dr. Nasir Azis, SE., MBA sebagai moderator.
Dalam sambutannya, Rektor Unsyiah Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal M, Eng menegaskan, konversi Bank Aceh menjadi bank syariah perlu didukung oleh semua pihak. Mendukung perbankan syariah berarti turut serta dalam mengangkat harkat martabat ekonomi umat Islam. Terlebih lagi, sistem perbankan syariah terbukti mampu menyelamatkan negara yang sedang mengalami krisis ekonomi.
“Bank syariah jauh lebih berprinsip keadilan ketimbang bank konvensional. Bank Islam jauh dari riba, perjudian, dan ketidakpastian. Menjalankan sistem syariah juga bagian dari usaha menjalankan syariat Islam secara paripurna,” ungkap.
Hal serupa disampaikan oleh Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah. Terwujudnya Bank Aceh Syariah bagian dari upaya menerapkan syariat Islam secara menyeluruh pada bidang ekonomi dan keuangan. Penerapan sistem secara perlahan Aceh akan meninggalkan sistem ekonomi riba.
Sementara itu, Adnan Ganto menjelaskan, perkembangan bank syariah di Indonesia telah dimulai sejak kemunculan Bank Muamalat di tahun 1991 yang dicetus oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kehadiran ini untuk mengakomodir pendapat umat Islam yang mengatakan bunga bank adalah haram dan termasuk riba. Hingga Desember 2014, di Indonesia sudah beroperasi 11 bank syariah dan 24 unit usaha syariah yang perkembangannya cukup baik.
“Bahkan di beberapa negara maju seperti di Inggris, Perancis, Jerman, dan Amerika Serikat yang masyarakatnya bukan penganut Islam juga telah memiliki unit usaha syariah. Maka kita jangan ragu sedikitpun untuk mengkonversikan Bank Aceh ke bank syariah. Sebab bank syariah bisa menjadi harapan baru bagi kebaikan ekonomi dunia. Terlebih lagi bank syariah mengedepankan asas keadilan, keterbukaan, dan kemitraan, ” ujar Dewan Komisaris Morgan Bank Ltd Zurich Swiss itu.
Menurutnya, bisnis perbankan syariah saat ini mengalami pertumbuhan sangat pesat. Hal ini ditandai hampir setiap bank besar membuka kegiatan usaha berbasis syariah. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi perbankan syariah seperti, kualitas sumber daya manusia, inovasi produk yang mampu berkompetisi di pasar, masalah permodalan, penyempurnaan aplikasi infrastruktur IT, dan pedoman manajemen resiko.
“Saya rasa tidak salah jika Pemerintah Aceh mempererat kolaborasi dengan Bank Pembangunan Islam di Jeddah untuk membantu pembangunan ekonomi Aceh melalui partisipasi dengan Bank Aceh Syariah,” tutupnya.
Hadir dalam seminar tersebut, Sulaiman Abda (Ketua IKA Unsyiah), DPRK Banda Aceh, para dekan, pejabat, akademisi, dan mahasiswa Unsyiah.
Penulis: Ferhat Muchtar
Editor : Reza Fahlevi