Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Rapat Kerja (Raker) tahunan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) 2015 digelar di kampus tersebut. Raker yang berlangsung Sabtu-Miggu (30-31/1) dan dipusatkan pada gedung AAC Dayan Dawwod, Darussalam, Banda Aceh ini, mengusung tema “Meningkatkan Kualitas Pelayanan untuk Kinerja Lebih Baik pada Tahun 2016”.
Pada kesempatan tersebut Rektor Unsyiah Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng mengatakan akan memfokuskan kerja ke depan pada upaya perbaikan segala lini, baik dari segi akademik, administrasi umum dan keuangan, bidang kemahasiswaan dan alumni, serta dalam bidang kerjasama. Hal ini dirasa penting agar Unsyiah mampu berdaya saing regional pada tahun 2017-2021, sehingga secara perlahan mampu berdaya saing internasional tahun 2021-2026 mendatang. Hal tersebut sudah dilakukan sejak lama, dari tahun 2007-2012 lalu Unsyiah sedang giat-giatnya melakukan peningkatan kapasistas kampus pada segala komponen. Sementara itu, pada 2012-2017 Unsyiah sedang melakukan penguatan layanan.
“Beragam tantangan yang kita hadapi saat ini baik regional maupun dalam skala internasional haruslah kita jadikan sebagai peluang. Karena kita tahu bahwa di tahun 2015 ini adalah tahunnya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Kita harus sudah siap dengan keadaan ini”, tegasnya
Tantangan yang dihadapi saat ini beragam mulai dari impelentasi MEA 2015, kebijakan Pembangunan Nasional berbasis kemaritiman 2014-2019, ditambah lagi penyesuaian Standar Nasional Pendidikan Tinggi dan Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia yang merupakan sistem regulasi pendidikan tinggi baru. Ada juga tantangan beradaptasi dengan tata kelola baru atau dikenal juga Statuta Unsyiah 2015 dan Pengelolaan Badan Layanan Umum (BLU). Ke depan Unsyiah juga akan memperkuat pondasi memasuki peningkatan daya saing regional. Serta tantangan terakhir adalah membina karakter islami sebagai ciri utama lulusan Unsyiah yang sesuai dengan Visi Unsyiah.
“Kita sedang dan akan terus membina karakter islami sebagai ciri utama mahasiswa dan lulusan Unsyiah”, harapnya di hadapan 120 peserta yang hadir dalam raker tersebut.
Ada banyak kegiatan yang sudah disiapkan oleh Unsyiah selama ini. Seperti halnya penambahan program studi baru. Hal ini dirasa membutuhkan komitmen semua pihak dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyrakat Aceh nantinya. Data dari Badan Jaminan Mutu (BJM) menyebutkan, saat ini Unsyiah mempunyai 15 prodi pada tingkat diploma, 56 prodi pada tingkat S1, 27 prodi pada tingkat S2, sementara pada jenjang S3 sudah mempunyai 8 prodi, jenjang profesi, saat ini Unsyaih sudah memiliki 5 bidang profesional, tahun depan ini akan terus bertambah, sementara untuk pemantapan bidang, Unsyiah mempunyai 3 ragam ilmu spesialis yang bernaung di bawah Fakultas Kedokteran Unsyiah.
Perluasan dunia kerja juga telah lama dilakukan oleh Unsyiah. Setiap tahun, Career Develompment Centre (CDC) Unsyiah selalu menyelenggarakan Job Fair sebagai upaya Unsyiah memberi akses kepada tenaga kerja baru melalui kerjasama dengan perusahan-perusahaan ternama di Indonesia.
“Peran CDC perlu terus ditingkatkan untuk membuka peluang akses lulusan ke dunia kerja”, harap Samsul.
Pemenuhan kapasitas sistem akademik untuk kampus Unsyiah Gayo Lues juga sangat dirasa membutuhkan perhatian semua pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten setempat.
“Saya sudah menghubungi Bupati Gayo Lues dan Telkom, ke depan akan ada video confference untuk mahasiswa Unsyiah Gayo Lues, sehingga ketika ada kuliah umum atau acara penting lainnya, pemenuhan akses pendidikan juga dapat dimanfaatkan di sana”, tambahnya.
Unsyiah juga akan mengelola penambahan bandwith internet untuk pemenuhan layanan sistem informasi agar terus berkembang, dan ditargetkan Unsyiah juga akan segera memiliki TV Kampus yang memang sedang digarap saat ini. Belum lagi pada pemenuhan askses jurnal, Unsyiah juga akan menuju perpusatakaan digital.
Raker ini turut dihadiri oleh seluruh civitas akademika Unsyiah. Kali ini, raker turut dihadiri dua pemateri dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia, yaitu Syahrul yang merupakan Kepala Seksi Anggaran dan Thomas Millian Pakpahan yang tercatat sebagai Analis Anggaran pada Kementerian tersebut. Mereka membahas tentang pengelolaan sistem keuangan dan anggaran yang sesuai dengan pemerintahan baru. [mrt]