Universitas Syiah Kuala

Unsyiah Gandeng PT. Pegadaian Majukan Pendidikan Aceh Melalui Program STEM-C

Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menggandeng PT. Pegadaian Provinsi Aceh dalam upaya memajukan pendidikan di Aceh. Hal ini disahkan dengan penandatanganan MoU antara Unsyiah dan PT. Pegadaian yang dilakukan oleh Rektor Unsyiah, Prof. Samsul Rizal, M.Eng., didampingi Wakil Rektor IV Unsyiah, Dr. Hizir dengan pimpinan PT. Pegadaian Provinsi Aceh, Fery Heriawan terkait penerapan program Science, Technology, Engineering and Mathematics Plus Character (STEM-C) di sekolah-sekolah di Provinsi Aceh. Kerja sama ini dilakukan di sela-sela kegiatan FGD Penerapan STEM+C pada Senin (23/12) di Balai Senat Unsyiah, Darussalam.
 
Selain itu, di waktu yang sama juga dilakukan penandatanganan MoU antara Unsyiah dengan Dinas Pendidikan Kab/Kota di Aceh dan antara PT. Pegadaian dengan Dinas Pendidikan Kab/Kota di Aceh dalam bidang yang sama.
Sebelum menggandeng PT. Pegadaian, sebelumnya Unsyiah telah mendapat dukungan penuh dari Gubernur Aceh, Bank Indonesia Provinsi Aceh, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Banda Aceh untuk bersama-sama mempersiapkan putri-putri Aceh menyongsong pendidikan 4.0 dan berkarakter melalui program kegiatan STEM-C. Penerapan program STEM-C ini juga sebagai upaya mewujudkan Aceh Caroeng, Meuadat dan Bermartabat.
 
Tujuan dari semua kerja sama ini tak lain untuk menciptakan sinergisitas terkait pengaplikasian konsep STEM-C sehingga akan lebih optimal manfaat yang diperoleh bagi guru dan siswa. Para pihak yang bekerjasama dapat saling berkontribusi dalam kegiatan pelatihan guru serta penerapan STEM-C di sekolah, pembuatan modul STEM-C, survey, FGD, workshop, seminar baik nasional maupun internasional, promosi STEM-C dan publikasi. Pada intinya kerja sama ini dijalin untuk mendukung ke arah pengembangan pendidikan melalui peningkatan dan pengembangan kompetensi guru dan siswa secara keberlanjutan di masa yang akan datang.
 
  
 
Kepala BI Aceh, Zainal Arifin Lubis mengatakan, Unsyiah dan BI sudah berkomitmen sejak awal untuk memajukan pendidikan di Aceh melalui pengaplikasian konsep STEM-C.
Menurut  Zainal, saat ini setiap daerah terus berupaya menerapkan konsep STEM di sekolah dan kampus mereka. Namun menurutnya, STEM saja tidak cukup. Ibarat 5 jari, STEM telah memenuhi empat jari, maka untuk bisa menggenggam masa depan dengan kuat dan stabil perlu ibu jari sebagai pelengkap yaitu karakter, sehingga jadilah STEM+C. Inilah yang membedakan antara STEM Aceh dengan STEM yang dikembangkan di daerah lain. Pendidikan karakter ini perlu dimulai sedini mungkin, tambah Zainal.
  “Diharapkan semua yang kita lakukan ini akan menghasikan program pendidikan yang unggul, yang nantinya itu adalah milik pemerintah Aceh, dan akan diterapkan di Provinsi Aceh”, ujar Zainal.
 
Pimpinan PT. Pegadaian Aceh, Fery Heriawan menekankan, PT. Pegadaian melalui program CSR akan ikut mendukung dan membantu Unsyiah untuk membiayai berjalannya konsep STEM+C ini di Aceh sebagai upaya pengembangan pendidikan di Aceh.
“Fokus kita di sini adalah bagaimana program yang sudah diinisiasi Unsyiah melalui  Pusat Riset STEM bisa diaplikasikan di seluruh Kabupaten/Kota di Aceh”, tegasnya.
 
Rektor Unsyiah, Prof. Samsul Rizal, M.Eng sangat mengapresiasi kerja keras Pusat Riset STEM selama ini. Menurutnya, STEM merupakan konsep pengajaran yang penting. Mengingat, tantangan di era ini yang  menuntut siswa memiliki kompetensi dalam hal berkomunikasi, berfikir kritis, kreativitas, dan berkolaborasi terhadap teknologi dan pengetahuan yang melibatkan lebih dari satu bidang ilmu. STEM adalah salah satu pendekatan yang sesuai dengan tuntutan itu.
 
Beberapa waktu lalu, Pusat Riset STEM Unsyiah telah melakukan sosialisasi STEM dan melatih sejumlah guru SMP di kota Banda Aceh dalam menerapkan STEM di sekolah. Selain untuk tingkat SMP, Sosialisasi dan Workshop STEM juga dilakukan untuk Guru PAUD di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar. 
 
Melalui STEM guru berupaya memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah autentik (masalah sehari-hari). Di mana masalah tersebut melibatkan beberapa disiplin ilmu menjadi satu kesatuan.  Hal ini memungkinkan siswa dengan potensi yang berbeda bisa berkolaborasi untuk menyelesaikan masalah. Tiga kata kunci yang perlu diperhatikan untuk mengimplementasikan STEM yaitu authentic (masalah nyata), integrated (antar bidang), dan construction (rekayasa), sehingga anak-anak zaman digital dapat menghasilkan karya nyata.
https://bkpsdm.tubankab.go.id/ https://siakad.uinbanten.ac.id/ https://centrodeservicio.ecci.edu.co/ecci/ https://linktr.ee/pisangbetslot https://daftartotosuper.com/ https://ingattotokl.com/ https://toto-kl.rpg.co.id/ https://mez.ink/totosuper.idn pisangbet https://baidich.com/rewards/ https://fib.unair.ac.id/fib/