
Wakil Rektor IV Universitas Syiah Kuala Dr. Hizir mengatakan sebagai perguruan tinggi yang berbasis riset, Unsyiah berkomitmen untuk mendukung industri hulu migas Aceh. Hal ini disampaikan oleh Wakil Rektor bidang Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Unsyiah ini, pada kegiatan Vendor Day 2019 di Gedung AAC Dayan Dawood. (Selasa, 29/10).
Hizir mengungkapkan, bahwa saat ini Unsyiah memiliki sumber daya manusia yang unggul khususnya dalam sektor migas. Alumni Unsyiah juga banyak bekerja pada sektor ini. Selain itu, Unsyiah juga terlibat dalam beberapa kajian ataupun riset pada sektor migas.
Misalnya, pada kegiatan join studi geologi, geofisika, geokimia dan gravity area Arakundo yang merupakan kerja sama antara Unsyiah, Unpad dan Universitas Triksakti. Lalu, studi bersama di wilayah offshore Southwest Aceh bekerja sama dengan UPN Vetran Jogjakarta dan lainnya.
Selain dengan sesama perguruan tinggi, Unsyiah juga pernah melakukan riset bersama dengan beberapa perusahan migas. Seperti kegiatan Pre-Feed Study untuk pengembangan Peusangan B bekerja sama dengan Zaratex NV. Lalu EBA Andaman I dan Andaman II bersama Mubadala Petroleum dan Premier Oil, study soil investigation dan survey di Blok A Aceh bekerja sama dengan Medco E & P Melaka.
Selain itu, Unsyiah juga memiliki fasilitas riset yang cukup memadai untuk mendukung riset pada sektor migas. Bahkan saat ini, UPT Lab Terpadu Unsyiah berhasil meraih sertikasi Komite Akreditas Nasional (KAN).
Untuk itulah, Hizir menilai bahwa sumber daya yang dimiliki oleh Unsyiah siap untuk mendukung komitmen pemerintah dalam upaya mensejahterakan masyarakat melalui sektor migas.
“Unsyiah berkomitmen mendukung industri hulu migas di Aceh, untuk mendorong eksplorasi agar bisa ditemukan potensi migas baru bagi kesejahteraan rakyat Aceh,” ucap Hizir.
Plt Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) Azhari Idris mengatakan, Vendor Day adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh BPMA yang bertujuan untuk memberikan kesempatan dalam mendapatkan informasi bagi vendor di sektor migas. Kegiatan ini sekaligus ajang silaturahmi pada semua pihak yang terlibat pada industri migas di Aceh.
Kegiatan ini juga melibatkan lima perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di wilayah kerja Aceh yaitu PT. Medco e & P Melaka, PT. Pertamina Hulu Sinergi NSB, Triangle Pase Inc, Talisman Andaman B.V (Repsol) dan Zaratex N.V.
Azhari juga mengungkapkan, kegiatan yang mengangkat tema Penguatan Kapasitas Daerah dalam Menunjang Kegiatan Operasi Hulu Migas di Aceh” ini, adalah upaya BPMA untuk mengembangkan kapasitas perusahaan lokal yang ada di Aceh.
“Saat ini ada 200 perusahaan lokal yang bekerja pada indutsri migas. Nah, di masa depan kita harapakan jumlahnya menjadi dua kali lipat. Tetapi dengan tetap memperhatikan safety yang tinggi dan teknis yang tinggi,” ucapnya.
Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Aceh Ir. Mahdinur, MM. Di mana dalam sambutannya, Mahdi mengatakan bahwa saat ini Aceh telah memiliki keistimewaan dalam pengelolaan migas. Hal ini didukung dengan lahirnya UU Pemerintah Aceh No 11 tahun 2006 dan Peraturan Pemerintah No 23 tahun 2015 tentang pengelolaan sumber daya alam.
“Berdasarkan peraturan itu, Pemerintah Aceh kemudian membentuk BPMA yang bertanggung jawab sebagai lembaga pengendalian migas di Aceh,” ucapnya.