Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA) Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) melaksanakan program Language of Visual Expression (LOVE). Kegiatan ini berfokus pada pelatihan bahasa isyarat bagi mahasiswa kedokteran dan intervensi edukasi kesehatan di SLB Negeri Banda Aceh.
Program ini merupakan respons terhadap data global tahun 2023 yang menunjukkan 16% populasi dunia adalah penyandang disabilitas, sementara di Indonesia tercatat terdapat 22,97 juta penyandang disabilitas yang memerlukan pendekatan khusus dalam akses komunikasi pelayanan kesehatan.
Rangkaian program LOVE dilaksanakan dalam beberapa tahapan yang dimulai dengan fase pembekalan pada 21 Februari dan 7 Maret 2026, di mana mahasiswa mengikuti pre-activity training mengenai prinsip komunikasi inklusif serta tanggung jawab tenaga medis terhadap pasien disabilitas.
Tahap selanjutnya adalah fase pelatihan teknis yang membekali peserta dengan materi bahasa isyarat dasar dan prosedur Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) yang telah diadaptasi untuk pasien tunarungu.
Program ini diakhiri dengan fase implementasi pada 18 April 2026, melibatkan 20 mahasiswa kedokteran yang melakukan intervensi langsung kepada 11 siswa di SLB Negeri Banda Aceh melalui edukasi penanganan kondisi medis harian, seperti mimisan, tersedak, luka ringan, dan sesak napas menggunakan bahasa isyarat. Koordinator kegiatan LOVE CIMSA FK USK menyampaikan bahwa program ini dirancang sebagai kontribusi mahasiswa kedokteran dalam menciptakan pelayanan kesehatan yang setara.
“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa kedokteran dalam berkomunikasi dengan penyandang disabilitas, khususnya tunarungu, sehingga pelayanan kesehatan dapat diberikan secara lebih inklusif dan humanis,” ujarnya.

Dalam sesi pelatihan, Dr. dr. Nasyaruddin Herry Taufik, Sp.KFR, menyampaikan bahwa kompetensi komunikasi bagi tenaga kesehatan adalah prasyarat utama dalam mewujudkan layanan kesehatan yang merata.
“Pelayanan kesehatan harus dapat diakses oleh semua individu tanpa terkecuali. Tenaga kesehatan perlu memiliki kompetensi komunikasi yang memadai agar tidak terjadi kesenjangan dalam pelayanan,” ungkapnya.
Sementara itu, Fitriyanti, S.Pd., Gr., guru dari SLB Negeri Banda Aceh, memberikan instruksi bahasa isyarat aplikatif yang dirancang untuk merespons situasi medis darurat. Ia menjelaskan bahwa penguasaan bahasa isyarat dasar sangat penting agar tenaga kesehatan dapat berinteraksi secara efektif dengan pasien tunarungu, terutama dalam situasi medis yang membutuhkan respons cepat.
Ketua Standing Committee on Human Rights and Peace (SCORP) CIMSA FK USK menegaskan bahwa mahasiswa kedokteran memiliki tanggung jawab sosial untuk memastikan tidak ada kelompok yang terpinggirkan dalam pelayanan kesehatan.
“Melalui LOVE, kami ingin menghadirkan solusi nyata terhadap hambatan komunikasi yang selama ini dihadapi penyandang tunarungu,” jelasnya.
Sebagai langkah keberlanjutan, CIMSA FK USK telah menjadwalkan sesi pemantauan (follow-up) pada bulan Juni dan September 2026 untuk mengevaluasi dampak program terhadap kapasitas relawan.