Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Syiah Kuala (USK) menyalurkan bantuan alat penyaringan air bersih bagi warga terdampak banjir hidrometeorologi Aceh 2025. Banjir yang dipicu curah hujan ekstrem dan luapan sungai menyebabkan sumber air warga menjadi keruh dan tidak layak pakai.
Melalui paket filter FRP lengkap dengan sistem pompa dan instalasi, USK menghadirkan solusi teknologi tepat guna untuk mengolah air kotor menjadi air bersih. Selain penyaluran alat, tim juga memberikan edukasi singkat kepada masyarakat sebagai bagian dari komitmen USK dalam Tridarma Perguruan Tinggi dan pemulihan kesehatan pasca bencana.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat USK merancang dan menghadirkan solusi teknologi tepat guna berupa paket alat penyaringan air bersih yang dapat dioperasikan langsung di lokasi terdampak bencana. Kegiatan ini diketuai oleh Prof. Akhyar, dengan anggota tim Prof. Mudatsir, Prof. Nasrul, Prof. Saiful, Abdillah Imron Nst., Ph.D., dan Dr. Bambang Setiawan, dalam Program PKM USK bertema Air Bersih dan Sanitasi. Kegiatan tersebut turut didukung oleh dosen pendamping Ir. Ratna Sary, MT dan Ir. Sofyan, MT, serta melibatkan mahasiswa relawan dalam pelaksanaannya.
Ketua Tim Pengabdian menyampaikan bahwa bantuan ini dirancang tidak hanya sebagai bantuan darurat, tetapi juga sebagai solusi yang berkelanjutan.
“Air bersih merupakan fondasi utama pemulihan kesehatan masyarakat pascabencana. Karena itu, kami menghadirkan sistem penyaringan air yang benar-benar dapat dimanfaatkan dan dirawat oleh masyarakat,” ujar Prof. Akhyar.
Salah satu anggota tim, Prof. Saiful, menjelaskan bahwa alat yang disalurkan berupa paket filter berbahan Fiber Reinforced Plastic (FRP) yang dikombinasikan dengan housing filter Puretrex clear/blue, dilengkapi sistem pompa air dan instalasi pipa.
“Sistem ini mampu mengolah air sumur dan air permukaan yang keruh menjadi air bersih layak untuk kebutuhan domestik. Penggunaan tabung filter FRP yang tahan korosi dengan filtrasi berlapis efektif menurunkan kekeruhan, bau, warna, serta kandungan besi dan mangan, serta mudah dipantau dan dirawat oleh Masyarakat” ucap Prof Saiful
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USK, Prof. Mudatsir, menegaskan bahwa pendekatan edukatif menjadi kunci keberlanjutan program.
“Kami ingin manfaat alat ini tidak hanya dirasakan saat masa tanggap darurat, tetapi juga dalam jangka menengah dan panjang,” ungkapnya.
Bantuan alat penyaringan air bersih disalurkan ke wilayah terdampak, yakni Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua di Kabupaten Pidie Jaya serta Kecamatan Kutablang di Kabupaten Bireuen, dengan sasaran pemukiman warga dan fasilitas umum melalui pendekatan berbasis komunitas bersama perangkat gampong dan relawan setempat.
Selain penyaluran alat, Tim Pengabdian USK juga memberikan edukasi singkat mengenai pentingnya air bersih, prinsip dasar penyaringan air, serta cara pengoperasian dan perawatan alat. Edukasi ini bertujuan agar masyarakat memiliki kapasitas untuk mengelola dan memanfaatkan teknologi secara mandiri.