Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala (FKH USK) melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Produk Teknologi Tepat Guna (PKMBP-TTG).
Kegiatan itu adalah pelatihan pembuatan larvasida nabati (pembunuh larva serangga berbahan tumbuhan) berbasis daun kecombrang untuk para peternak di Desa Lamreung, Meunasah Papeun, Kecamatan Krueng Barona Jaya. (Aceh Besar, 15 Oktober 2025).
Kegiatan yang merupakan inovasi pengendalian penyakit miasis (kasus belatung atau larva lalat pada luka) ternak sapi ini, didanai melalui Skim PKMBP-TTG Tahun 2025 dari sumber dana PTN BH USK. Tiga dosen berpengalaman yang terlibat dalam tim pelaksana tersebut. Mereka adalah drh. Lian Varis Riandi M Si (Ketua, Dosen Parasitologi FKH USK), Dr drh Farida M Si, dan Nura SP, M Si (Dosen Fakultas Pertanian USK) sebagai anggota.
Ketua tim yang Dosen Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, drh Lian Varis Riandi, mengatakan, sedikitnya ada 18 peserta dari Kelompok Ternak Jaya Abadi asal Desa Lamreung Meunasah Papeun yang mendapat pelatihan tersebut. Mereka juga ditemani mahasiswa KKN Tematik FKH USK mengikuti kegiatan ini.
“Tujuan utama adalah memanfaatkan potensi lokal daun kecombrang (Etlingera elatior), yang melimpah di wilayah tersebut namun belum dimanfaatkan secara optimal,” tutur Lian Varis Riandi.
Teuku Reza Aulia, tokoh masyarakat setempat mewakili aparatur gampong (aparatur desa) menyambut gembira dan berterima kasih atas kehadiran tim FKH USK. Pihaknya berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut untuk memberdayakan peternak melalui inovasi berbasis sumber daya alam lokal.
Sebelum memasuki sesi Pelatihan cara membuat larvasida nabati, perseta lebih dulu diberikan penyuluhan mengenai penyakit miasis dan strategi pengendaliannya. Materi kesehatan hewan ini disampaikan langsung oleh ketua tim, drh Lian Varis Riandi.
Dalam materi yang disampaikan, Lian lebih menekan terkait pentingnya pemanfaatan larvasida nabati sebagai alternatif untuk lebih ramah lingkungan dalam sistem pengendalian ektoparasit. Kemudian mengenai kaitannya dengan penerapan higiene (upaya kesehatan dengan cara memelihara serta melindungi kebersihan) dan sanitasi kandang untuk mendukung kesehatan ternak yang berkelanjutan.

Sedangkan pelatihan teknis dipandu oleh Nura, sekaligus pembimbing peserta dalam proses ekstraksi sederhana, formulasi, dan aplikasi larvasida. Itu dilakukan sesuai dengan pendekatan teknologi tepat guna yang mudah diterapkan oleh peternak.
Sebagai bagian dari kegiatan, dilakukan pula serah terima alat produksi larvasida sederhana kepada kelompok mitra disertai praktik langsung pembuatan larvasida.
Karena itu masyarakat sangat antusiasme dan komitmen tinggi untuk melanjutkan produksi secara mandiri. Mereka berharap inovasi ini dapat berkembang menjadi usaha mikro di bidang kesehatan ternak.
Adapun Dekan FKH USK, Teuku Reza Ferasyi, mengatakan program pelatihan itu merupakan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat melalui inovasi berbasis potensi lokal. Kemudian kegiatan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kesehatan ternak, tetapi juga mendorong lahirnya ekonomi produktif berbasis biopestisida lokal bernilai tambah.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kemitraan, Faisal Jamin, juga memberi dukungan penuh atas peran aktif mahasiswa KKN Tematik dalam mendampingi masyarakat. Itu sebagai bagian dari upaya pemberdayaan berkelanjutan.
“Antusias peserta dan masyarakat sangat tinggi. Harapannya inovasi larvasida “Combet-Sis” (Kecombrang Biolarvasida Sistemik) dapat terus dikembangkan sebagai solusi pengendalian miasis sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi peternak,” tambah Ketua Kelompok Ternak, Helmi Hasyifuddin.