Tim Kesehatan Dokter Militer PATUBEL Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) bersama unsur tenaga kesehatan Kesdam Iskandar Muda (IM) berhasil menembus Desa Remukut, Kecamatan Pantan Cuaca salah satu wilayah yang terisolasi akibat bencana dan membuka kembali akses layanan medis bagi masyarakat.
Sepanjang hari, Tim Kesehatan melaksanakan dua agenda utama, yakni memberikan dukungan kesehatan dan logistik ke Desa Remukut serta membuka layanan pengobatan di Pos Kesehatan Induk. Upaya ini memastikan masyarakat yang beberapa hari terputus aksesnya dapat kembali memperoleh pelayanan kesehatan dasar yang sangat dibutuhkan.
Hingga Senin malam, tim melaporkan kondisi lapangan berada dalam keadaan aman dengan cuaca cerah berawan, serta tidak terdapat hambatan berarti dalam pelaksanaan tugas kemanusiaan.
Sebanyak 355 warga telah menerima layanan medis pada operasi hari tersebut. Penanganan terbesar dilakukan di Desa Remukut, dengan 323 pasien terdiri dari 262 dewasa dan 61 anak-anak. Sementara 32 warga lainnya dilayani di Pos Kesehatan Induk (30 dewasa dan 2 anak-anak). Keluhan paling banyak meliputi batuk, demam, gatal-gatal, diare, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), yang umum terjadi pada kondisi pasca bencana di daerah terpencil.
Keberhasilan tim mencapai Desa Remukut menjadi capaian penting, mengingat wilayah ini sebelumnya belum pernah berhasil dijangkau oleh tim bantuan mana pun. Untuk menuju lokasi, rombongan harus berjalan kaki melintasi jalur pegunungan setelah akses darat terputus total. Selain membawa tenaga dokter dan peralatan medis, tim juga mengangkut logistik bagi warga terdampak.

Operasi pendistribusian logistik turut diperkuat oleh 15 personel Batalyon TP 855/RD yang membantu membawa suplai sejauh kurang lebih lima kilometer dengan total beban mencapai dua ton, melewati hutan lebat dan medan pegunungan yang ekstrim.
Koordinator tim lapangan, Kapten Ckm dr. Aan Andrian, menegaskan bahwa kondisi medan tidak menjadi penghalang bagi layanan kesehatan.
“Akses menuju Remukut sangat menantang, namun layanan kesehatan tidak boleh tertunda. Begitu jalur terbuka, prioritas kami adalah memastikan masyarakat menerima penanganan medis dan dukungan logistik sesegera mungkin. Ini tugas kemanusiaan, dan kami akan terus berada di lapangan selama masyarakat membutuhkan,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan operasi merupakan buah dari kolaborasi yang solid.
“Sinergi tenaga kesehatan militer dan sipil sangat membantu efektivitas penanganan. Tidak ada yang bekerja sendiri semua bergerak dengan tujuan yang sama, yaitu keselamatan dan pemulihan warga terdampak,” tambahnya.
Total 46 personel terlibat dalam operasi terpadu di Gayo Lues, terdiri dari unsur militer dan sipil, termasuk Tim Kes Kesdam IM/Denkesyah Meulaboh, Tim FKTP Bakti Musara, dan Tim Kes Yon TP 855/RD. Operasi kemanusiaan ini berada di bawah koordinasi Dokter Militer PATUBEL FK USK dan unsur kesehatan Kesdam IM sebagai bagian dari respons kesehatan terpadu bagi masyarakat terdampak bencana.