Tim AMSA USK Raih Juara III di Ajang IMSTC

Tim AMSA Universitas Syiah Kuala yang diwakili oleh Muhammad Shadiqul Zikiri, Intan Qanita, dan Sherina Arfi yang merupakan mahasiswa Kedokteran USK berhasil menjadi juara 3 videografi pada ajang Indonesian Medical Student’s Training and Competition (IMSTC). (Banda Aceh, 19 Februari 2021).

Muhammad Shadiqul Zikiri menjelaskan, judul video yang mereka berikan adalah “Let’s Stop Soil Transmitted Helminths by WEEKEND”, yang merujuk kepada penjelasan mengenai salah satu penyakit tropis terabaikan yaitu Soil Transmitted Helminth (kecacingan) dan cara pencegahannya menggunakan WEEKEND.

“WEEKEND sendiri adalah singkatan dari beberapa langkah pencegahan cacingan yang disarankan oleh Kemenkees tetapi dibuat dalam bahasa Inggris,” ucapnya.

Kegiatan ini  dilaksanakan mulai dari tanggal 6 – 7  dan 13 – 14 Februari 2021 secara daring, dan menggunakan Zoom dengan jumlah total delegasi dan peserta kompetisi sebanyak 499 orang.

Tujuan dari pelaksanaan acara ini, ungkapnya, adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan motivasi dari seluruh mahasiswa kedokteran untuk membuat karya ilmiah dan publikasi kesehatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Berdasarkan tema yang diambil yaitu tentang Penyakit Tropis Terabaikan, diharapkan seluruh peserta yang mengikuti acara tersebut dapat berkontribusi dalam pemeberantasan dan pencegahan NTD di dunia khususnya di Indonesia,” ujarnya.

IMSTC adalah acara tahunan Asian Medical Student’s Association (AMSA) Indonesia yang merupakan organisasi mahasiswa kedokteran di seluruh Indonesia. IMSTC memiliki beberapa aktivitas seperti kompetisi dan training.

Tahun ini, tema dari acara IMSTC adalah TRYPANOSOMA “Tropical Disease Prevention and Control by Innovative Solution in Medical Association” yang mengedepankan permasalahan Penyakit Tropis Terabaikan (NTD).

“Penyakit Tropis Terabaikan merupakan kelompok penyakit menular yang beragam yang terjadi di kondisi tropis dan subtropis pada 149 negara di dunia yang mempengaruhi miliaran penduduk,” ucap mahasiswa FK USK ini.

 Populasi yang hidup dalam kemiskinan, tanpa sanitasi yang memadai, dan dalam kontak dekat dengan vektor infeksius serta hewan peliharaaan dan ternak adalah yang terkena dampak paling parah.

“Istilah ‘diabaikan’ merujuk pada fakta bahwa penyakit menular tersebut masih dianggap tidak penting hingga beberapa tahun terakhir, Indonesia masih berjuang memberantas penyakit tersebut,” ujarnya.


Leave a Reply