Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Museum Seulawah menyelenggarakan kegiatan bertema Workshop Virtual Reality Seulawah: Lingkungan Berkelanjutan dan Kesiapsiagaan Bencana Gunung Api Seulawah di MIN 2 Aceh Besar, Gampong Lamtamot. Kecamatan Lembah Seulawah Aceh Besar.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program IN SAINTEK yang digagas oleh Kemendiktisaintek guna mendiseminasikan ilmu pengetahuan dan teknologi ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk anak-anak di wilayah risiko bencana.
MIN 2 Aceh Besar yang berlokasi di Gampong Lamtamot dipilih sebagai tuan rumah karena wilayah ini berada di zona risiko letusan Gunung Api Seulawah. Kegiatan juga melibatkan MIN 44 Aceh Besar yang berlokasi di Lambaro Tunong, dekat Pos Pemantauan Gunung Seulawah, SDN Lamtamot, SDN Lambaro Tunong dan MIN 12 Aceh Besar. Sebanyak 31 siswa dari dua sekolah madrasah dan dua sekolah dasar ini mengikuti kegiatan secara aktif, didampingi guru dari masing-masing sekolah.
Workshop secara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Aceh Besar, H. Saifuddin, S.E., yang dalam sambutannya memberikan apresiasi atas pendekatan edukasi yang kreatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal.
Hadir pula Direktur TDMRC USK, Prof. Dr. Syamsidik, ST., M.Sc, perwakilan BPBD Aceh Besar, Keuchik Lamtamot, Komite Sekolah, peneliti tamu mahasiswa dari Lund University, Swedia, sebagai wujud kolaborasi nasional dan internasional dalam pengembangan edukasi kebencanaan.
Gunung Seulawah Agam, dengan ketinggian sekitar 1.810 mdpl, merupakan salah satu dari empat gunung api aktif di Aceh. Saat ini gunung tersebut berada pada status Normal (Level I), namun tetap menyimpan potensi aktivitas vulkanik di masa depan. Edukasi kesiapsiagaan menjadi krusial agar masyarakat, khususnya generasi muda, memahami risiko dan mengetahui langkah penyelamatan diri sejak dini. Selain itu, pemahaman mengenai pelestarian lingkungan di kawasan gunung api juga menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi jangka panjang.
Keunikan workshop ini terletak pada penggunaan teknologi Virtual Reality (VR) berbasis cardboard viewer dari karton yang murah dan ramah anak. Melalui tayangan 360° hasil kegiatan Tri Dharma tim dosen USK yang telah dipublikasikan di YouTube, piranti museum digital Mseulawah serta materi pameran dan aneka permainan edukatif, para siswa diajak menelusuri panorama Gunung Seulawah, memahami struktur gunung, risiko erupsi, jalur evakuasi, hingga pentingnya menjaga kelestarian alam.

Kegiatan diisi oleh beberapa narasumber yaitu Dr. Syahrul Ridha (Ketua Panitia), Zahrina Fakhrana, S.T., M.Sc (Fasilitator penggunaan VR), Ir. Myna Agustina, S.T., M.Sc (Penyaji materi edukasi melalui permainan “Ranking 1”), Dr. Puspita Annaba Kamil (Evaluator pemahaman siswa).
Sementara itu, Indra Syahputra dari Pos Pengamatan Gunung Api Seulawah (PVBG) memberikan penjelasan mengenai proses monitoring aktivitas gunung dan pentingnya peringatan dini. Turut mendampingi Dr. Sylvia Agustina (Koordinator Program TDMRC IN SAINTEK 2025) serta tim volunteer Museum Seulawah dari Prodi Perencanaan Kota dan Wilayah USK serta tim dokumentasi TDMRC.
Anak-anak terlihat sangat antusias mencoba perangkat VR, mengajukan pertanyaan seputar erupsi gunung api, serta ikut berkompetisi dalam kuis edukatif yang dirancang untuk memperkuat pemahaman mereka. Guru pendamping juga menyampaikan bahwa pendekatan visual dan interaktif membuat materi kebencanaan lebih mudah dipahami dan diingat. Namun demikian beberapa kendala juga diidentifikasi seperti singkatnya waktu penyampaian untuk mencapai tingkat pemahaman yang diinginkan.
Menurut Prof. Syamsidik, kegiatan ini merupakan bagian dari misi TDMRC USK dalam membangun budaya sadar bencana sejak usia dini melalui pengajaran, riset, dan pengabdian masyarakat dalam koridor mitigasi bencana. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga pendidikan, pemerintah daerah, lembaga kebencanaan, serta masyarakat lokal agar kesiapsiagaan dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dukungan dari Kementerian Agama Aceh Besar dan BPBD Aceh Besar diakui sangat penting untuk memastikan keberlanjutan program ini dan memperluas jangkauan ke lebih banyak sekolah di zona rawan bencana. Kolaborasi semacam ini diyakini menjadi langkah strategis dalam membangun masyarakat Aceh yang tangguh terhadap bencana sekaligus peduli terhadap pelestarian lingkungan. Program IN SAINTEK sendiri bertujuan mendekatkan sains dan teknologi kepada masyarakat luas, termasuk kelompok yang tinggal di wilayah rawan bencana namun belum memiliki akses merata terhadap edukasi kebencanaan baik secara formal maupun tradisional.
TDMRC USK bersama Museum Seulawah mengharapkan agar workshop semacam dapat dikembangkan ke sekolah-sekolah lain di sekitar Gunung Seulawah, sekaligus mengembangkan model edukasi VR kebencanaan berbasis komunitas yang dapat direplikasi secara mandiri oleh guru di berbagai wilayah rawan bencana di Indonesia. TDMRC secara khusus telah mempersiapkan modul pemanfaatan VR untuk edukasi Kesiagaan Bencana Seulawah tingkat SD/MI di sekitar Seulawah dan memberikan unit VR Viewer beserta modul kepada sekolah yang berpartisipasi.
Selain kegiatan tentang gunung api Seulawah, Program TDMRC IN SAINTEK 2025 juga mencakup tiga kegiatan lain yaitu Sosialisasi Tugu Tinggi Air Tsunami yang telah terlaksana pada tanggal 21 Oktober 2025, serta kegiatan Workshop Piranti SupeRISKa dan Database Bangunan yang akan dilaksanakan pada 30 Oktober 2025 dan diakhiri dengan acara puncak Disaster Science Camp Topik Geo Hazard untuk siswa SMU/MAN dan Dayah dari seluruh Aceh pada 4-6 November 2025.