Tim Satuan Tugas Universitas Syiah Kuala (Satgas USK) bersama relawan mahasiswa melaksanakan aksi pembersihan sumur warga terdampak banjir di sejumlah wilayah Provinsi Aceh. Hingga 4 Januari 2025, Satgas USK berhasil membersihkan 640 sumur yang tersebar di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Utara, sebagai upaya pemulihan akses air bersih bagi masyarakat pascabencana.
Rincian pembersihan sumur meliputi 284 sumur di Kabupaten Pidie Jaya, 241 sumur di Kabupaten Bireuen, serta 115 sumur di Kabupaten Aceh Utara, khususnya di Desa Lancang Barat, Kecamatan Dewantara. Aksi ini menjadi bagian dari respons cepat USK dalam membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar, terutama air bersih dan sanitasi.
Kegiatan tersebut didukung melalui pendanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana (PKM-TDB) Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, kolaborasi dengan I.S.E.I Banda Aceh dan I.S.E.I Pusat, serta donasi masyarakat Indonesia yang disalurkan melalui mekanisme pengelolaan Rumah Amal USK. Sinergi lintas lembaga ini memungkinkan pelaksanaan kegiatan berlangsung terkoordinasi dan menjangkau desa-desa dengan tingkat dampak banjir berat hingga sedang, dimana sebagian warga masih bertahan di hunian darurat.
Koordinator Lapangan Satgas USK, Prof. Akhyar, menjelaskan bahwa pembersihan sumur merupakan langkah krusial untuk melindungi kesehatan masyarakat.
“Banjir membawa endapan lumpur yang cukup tebal dan pada beberapa lokasi bercampur dengan limbah. Jika tidak segera dibersihkan, air sumur berisiko tidak layak konsumsi. Karena itu, tim memastikan setiap sumur dapat kembali digunakan secara aman oleh warga,” ujarnya.

Rektor USK Prof. Dr. Ir. Marwan menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh mitra dan donatur yang telah mempercayakan bantuan melalui Rumah Amal USK.
“Dukungan ini sangat berarti bagi masyarakat yang sedang berjuang bangkit pascabencana. Perguruan tinggi tidak hanya hadir dalam ruang akademik, tetapi juga melalui aksi nyata untuk menjawab kebutuhan dasar warga, salah satunya akses air bersih,” kata Prof. Marwan.
Sementara itu, Ketua Satgas USK, Prof. Dr. Syamsidik, S.T., M.Sc., menegaskan bahwa pemulihan sumur memiliki dampak strategis bagi keberlanjutan kehidupan masyarakat desa.
“Di banyak gampong Aceh, sumur merupakan sumber utama air bersih. Upaya pembersihan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Nomor 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi serta SDGs Nomor 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Air yang layak akan membantu mencegah penyakit berbasis lingkungan dan mempercepat pemulihan aktivitas keluarga,” jelasnya.
Dengan selesainya pembersihan 640 sumur, USK berharap akses air bersih masyarakat dapat pulih lebih cepat sehingga warga kembali dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, menjaga kebersihan lingkungan, hingga aktivitas domestik lainnya. Satgas USK juga terus membuka kanal laporan dari desa-desa yang belum terjangkau serta siap melanjutkan intervensi sesuai kebutuhan di lapangan sebagai bagian dari komitmen pengabdian kepada masyarakat.