Rektor USK Berbagi Pandangan dengan 20 Rektor Kampus Jerman

Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Ir. Marwan, bersama 10 Rektor universitas ternama di Indonesia mendapat undangan dari German Academic Exchange Service, DAAD Regional Office di Jakarta untuk berpartisipasi dalam acara matchmaking and networking session dengan delegasi 20 Rektor dari Universities of Applied Sciences (UAS) di Jerman.

“Ini menjadi kesempatan berharga bagi USK untuk bertukar pandangan, serta membagun jejaring bersama Rektor di Indonesia, maupun Jerman. USK sebagai kampus yang menuju World Class University senantiasa memaksimalkan kesempatan di forum internasional,” jelas Prof Marwan.

Hadir bersama Rektor USK, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prof. Dr. Taufik Fuadi Abidin, S.Si., M.Tech dan Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Ir. Sugianto, M.Sc., Ph.D. Kegiatan matchmaking tersebut berlangsung pada Kamis, 29 Februari 2024, di Ruang Apung Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat.

Rektor Universitas Indonesia, Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D yang membuka kegiatan tersebut, dalam sambutannya menyampaikan, kolaborasi menjadi penentu arah pengembangan pendidikan dan penelitian ke depan, karena perubahan yang begitu cepat di era terbuka seperti sekarang.

“Kegiatan matchmaking ini menjadi kesempatan yang sangat baik bagi para Rektor untuk menjalin kerjasama antar institusi,” kata Ari.

Sambutan juga disampaikan oleh Deputy Secretary General DAAD, Dr. Michael Harms. Ia berharap, agar kolaborasi antar perguruan tinggi di Jerman dan Indonesia dapat terus terwujud, semakin kuat, dan dapat memberi manfaat yang besar bagi kedua negara.

“Bagi sebagian delegasi Jerman, universitas-universitas di Indonesia akan menjadi mitra baru. Oleh karena itu, tugas kami adalah menginformasikan kepada para Rektor universitas Jerman tentang peluang kerjasama yang mungkin dengan universitas-universitas di Indonesia, seperti studi lanjut, student/staff mobility, dan riset bersama,” ujar Harms.

Pertemuan matchmaking menjadi forum diskusi langsung antar kedua institusi secara akrab, untuk melahirkan berbagai kerjasama nyata. “Semoga terlaksana kunjungan balasan para Rektor universitas di Indonesia ke Jerman nantinya,” harap Harms.

Universitas di Indonesia yang diundang meliputi: Universitas Indonesia (sebagai tuan rumah), Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, Universitas Padjadjaran, Universitas Syiah Kuala, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Jember.

Sementara dari Jerman, universitas dalam bidang Applied Sciences yang hadir adalah: OTH – Technical University of Applied Sciences Amberg-Weiden, Technical University of Applied Sciences Aschaffenburg, IB University of Applied Sciences for Health and Social Studies Berlin, dan HMKW University of Applied Sciences for Media, Communication and Management Berlin.

Kemudian ada University of Applied Sciences Darmstadt, University of Applied Sciences Hannover, University of Applied Sciences Harz, University of Applied Sciences Heilbronn, University of Applied Sciences Ernst-Abbe Jena, University of Applied Sciences Kaiserslautern, juga University of Applied Sciences Kiel.

Lalu ada Technical University of Applied Sciences Lübeck, University of Applied Sciences Mainz, University of Applied Sciences Merseburg, University of Applied Sciences München, University of Applied Sciences Münster, Technical University of Applied Sciences Ostwesfalen-Lippe, University of Applied Sciences Rhein Main, University of Applied Sciences Stralsund, serta Merz Akademie.

Salah satu hal yang menarik disampaikan oleh Rektor University of Applied Sciences Ernst-Abbe Jena, Prof. Dr Steffen Teichert selaku pakar dalam bidang Fisika Material ini, bahwa untuk penelitian dan pengembangan, UAS Jena erat bekerja sama dengan mitra bisnis dan dunia industri. UAS Jena fokus melakukan penelitian terkait sistem presisi, teknologi, material, kesehatan, dan digitalisasi.

“Kolaborasi dengan DUDI tersebut dipengaruhi oleh sejarah Jena sebagai daerah lokasi industri, terutama untuk bidang optik dan fotonik, kesehatan, dan ilmu hayati,” beber Steffen.