Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Ir. Marwan mendapatkan kehormatan untuk menyampaikan pemikirannya pada peringatan 90 tahun Guangdong Ocean University. Pada kesempatan itu, Prof. Marwan menyampaikan pandangannya terkait pentingnya kemitraan global untuk menghadapi tantangan dunia saat ini.
Kehadiran USK tersebut sekaligus untuk memperkuat langkah internasionalisasinya melalui partisipasi dalam Guangdong Ocean University (GDOU) 90th Anniversary High-Quality Development Conference dan International Cooperation Roundtable yang digelar di Zhanjiang, Tiongkok, Sabtu (22/11).
Dalam pertemuan yang dihadiri pejabat kementerian Tiongkok, pemerintah provinsi Guangdong, pimpinan GDOU, serta delegasi universitas dari berbagai negara itu, Prof. Marwan menegaskan bahwa hubungan akademik Indonesia–Tiongkok harus dibangun di atas prinsip kolaborasi, saling pengertian, dan pertukaran ilmiah yang berkelanjutan.
“Kerja sama antar kampus adalah jembatan penting dalam memperkuat hubungan antara dua negara. Tantangan kelautan, pangan, dan lingkungan tidak mengenal batas teritorial, dan hanya bisa dihadapi melalui kolaborasi yang terbuka,” ujar Rektor.
Selain menyoroti bidang kelautan yang menjadi kekuatan kedua kampus, Prof. Marwan memperluas ruang kolaborasi pada sektor yang sangat relevan bagi masa depan kawasan pesisir Asia, yaitu pertanian pesisir, terutama pengembangan padi air asin, serta animal science dan food science and technology.
Menurut Rektor, intrusi air laut di berbagai wilayah pesisir Indonesia maupun Tiongkok menuntut terobosan pertanian yang adaptif. Kerja sama riset antara USK dan GDOU dinilai sangat potensial untuk mengembangkan varietas padi toleran salinitas untuk daerah pesisir.
“Kita bisa juga melakukan uji lapangan varietas padi air asin di Aceh dan wilayah pesisir lainnya. Serta merancang model pertanian adaptif bagi masyarakat yang terdampak perubahan iklim,” ucapnya.
Pada bidang animal science, Rektor menekankan peluang riset nutrisi ternak berbasis biomassa pesisir, teknologi peternakan cerdas, serta integrasi peternakan–perikanan. Adapun pada food science and technology, kedua kampus disebut memiliki potensi besar mengembangkan produk pangan fungsional berbasis sumber daya laut tropis dan subtropis.
Melalui kehadirannya, USK menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat diplomasi pendidikan Indonesia. Forum internasional tersebut menjadi ruang strategis untuk membangun jejaring, memperkenalkan keunggulan USK, serta membuka peluang kerja sama akademik jangka panjang.
Sejumlah kemungkinan tindak lanjut kini terbuka, mulai dari penyusunan MoU baru, program pertukaran mahasiswa, riset bersama tentang padi air asin, hingga pembentukan klaster penelitian gabungan untuk sektor pangan dan peternakan tropis.
Guangdong Ocean University, menyambut baik gagasan Rektor USK dan menyatakan ketertarikan untuk memperluas kerja sama yang selama ini sudah terbangun. Rektor kemudian menutup pidatonya dengan menyerukan pentingnya peran universitas dalam menghadapi dinamika global.
“Kerja sama bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Universitas harus menjadi pusat inovasi yang menyatukan negara-negara Asia dalam menghadapi perubahan iklim, krisis pangan, dan tantangan pesisir yang semakin kompleks.”