
Prodi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota, Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala menggelar Seminar Perencanaan secara Daring (SPRING) yang kali ini membahas perencanaan megakota di negara berkembang, Selasa (4/8). Seminar ini secara spesifik membahas peluang dan tantangan perencanaan megakota di Negara berkembang, khususnya untuk kota kecil dan sedang.
Megakota (megacities) sendiri sering didefinisikan sebagai sebuah kota dengan populasi lebih dari 5 juta jiwa. Definisi lain megakota adalah rangkaian kawasan perkotaan yang sambung menyambung dengan total penduduk lebih dari 10 juta jiwa. Kota besar dan megakota menjadi magnet dan memiliki pengaruh bagi kota-kota disekitarnya.
Kota Banda Aceh saat ini termasuk kota sedang (medium city), dengan jumlah penduduk di bawah 500 ribu jiwa. Jenis kota ini justru yang paling banyak tumbuh di belahan dunia selatan, terutama di Asia dan Afrika. Posisi Kota Banda Aceh cukup strategis secara geografis, yaitu memiliki potensi hubungan langsung dengan India dan Cina yang merupakan lokasi konsentrasi pertumbuhan kota-kota dunia. Diperkirakan bahwa pada tahun 2050 lebih dari 66 % penduduk dunia akan tinggal di kawasan perkotaan. Bagaimana merencanakan kota kecil dan sedang agar menjadi kota yang nyaman bagi penduduknya, mandiri dan tidak tergantung pada kota besar dan megakota menjadi hal yang perlu dipikirkan bersama.
Seminar ini dibuka oleh Rektor Unsyiah Prof Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng., IPU, yang dalam sambutannya menggarisbawahi tentang belum optimalnya pembangunan di Aceh khususnya Kota Banda Aceh, dalam hubungannya dengan posisi geografis Aceh yang strategis.
Seminar ini menghadirkan narasumber yang ahli dibidang perencanaan, diantaranya Prof. Dr. Deden Rukmana, Ketua Jurusan Perencanaan wilayah dan komunitas di Alabama A&M University Amerika Serikat; dan Dr.sc.agr. Iwan Rudiarto, M.Sc yang merupakan ketua Asosiasi Sekolah Perencanaan Indonesia (ASPI) Periode 2019-2021.
Dalam bagian pertama sesi presentasi yang dipandu oleh Sylvia Agustina, S.T., M.U.P; Prof Deden Rukmana menyampaikan tentang perlunya perencanaan berbasis riset serta memotivasi agar peneliti Indoneia dan juga kota-kota diIndonesia bisa melakukan langkah strategis untuk tidak hanya menjadi pengamat dan konsumen. Menurutnya Indonesia perlu menjadi aktor dan mengambil peran sebagai peneliti dan perencana yang bukan hanya menjadi tuan rumah di kota dan negara sendiri tetapi juga berkontribusi di tingkat global. Prof Deden menyarankan untuk tidak hanya mengandalkan negara atau kelembagaan dalam membangun jaringan global tetapi memanfaatkan hubungan antar pribadi (people to people relation) sebagai jembatan kerjasama yang lebih luas.
Sementara itu Dr.sc.agr. Iwan Rudiarto. S.T., M.Sc menyampaikan tentang pentingnya memahami tranformasi desa-kota dan kawasan peri urban yaitu kawasan di sekitar kota yang memiliki peran penting dalam fungsi ekologi, ekonomi dan sosial kota.
Ketua Jurusan Arsitektur dan Perencanaan FT Unsyiah Dr. Ashfa, S.T., M.T., menyampaikan bahwa perlu upaya mitigasi terhadap fenomena urban heat island yang banyak terjadi di kota-kota besar dan megacity, sehingga aspek ini menjadi penting dalam perencanaan kota berkelanjutan. Ia menambahkan, acara SPRING ini direncanakan akan berlangsung secara berkala, dengan menghadirkan berbagai tema dan narasumber lainnya.
Di dalam acara ini juga dilakukan peluncuran buku “The Routledge Handbook for Planning Megacities in the Global South” yang merupakan buku kompilasi artikel perencanaan berbagai kota di negara berkembang yang ditulis oleh 51 peneliti dari berbagai negara. Peluncuran buku dari penerbit internasional yang dilakukan di Unsyiah ini juga menunjukkan bahwa melalui people to people relation dan teknologi informasi, situasi pandemi tidak menjadi penghalang dalam membangun kerjasama dan bertukar pikiran untuk meningkatkan kualitas pendidikan perencana kota serta membangun dasar keilmuan yang kuat untuk pengembangan kota yang lebih baik.