Perkuat Riset dan Inovasi, FKH USK-ITD UNAIR Jalin MoA

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala menjalin kerjasama dengan Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga (ITD UNAIR). Penandatangan ini berlangsung di Aula FKH USK, Kamis, 14 Desember 2023.

Dekan FKH drh. Teuku Reza Ferasyi, M.Sc. PhD dalam sambutannya mengatakan, pihaknya siap merintis dan menjaga kerjasama dengan ITD UNAIR. MoA tersebut menjadi awal dan pintu masuk bagi tumbuh kembang bersama.

“MoA ini penting lagi bermakna, agar apa yang sudah berkembang di ITD UNAIR bisa FKH USK adopsi di sini. Apalagi UNAIR adalah salah satu kampus dari Indonesia yang masuk jajaran kampus top dunia, selaras dengan USK yang sedang berakselerasi menjadi World Class University,” kata Teuku Reza.

Menurutnya, UNAIR telah menjadi kampus rujukan bagi banyak perguruan tinggi di Indonesia, termasuk untuk dokter hewan. Kerjasama dengan USK nantinya beragam, paling utama adalah kolaborasi penelitian dan pengembangan laboratorium riset veteriner dan zoonosis.

“FKH USK terus bergegas menjadi Center of Excellence for Conservation Medicine, yang menangani reproduksi serta penyelamatan spesies hewan. Kami sedang menyiapkan Laboratorium Biosafety Level. Kerjasama pembuatan lab-lab riset sangatlah penting,” ujar Dekan FKH USK.

Perwakilan ITD UNAIR, Prof. Dr. Fedik Abdul Rantam menyampaikan terimakasih atas kesediaan kerjasama, dan sambutan hangat dari FKH USK. Kehadiran delegasi ITD UNAIR, juga bagian dari kerjasama dengan kampus di luar Pulau Jawa.

“Lima kampus di Indonesia yang masuk top kampus dunia, termasuk UNAIR mendapatkan kepercayaan dari kementerian untuk mengembangkan diri menjadi For Excellent, dengan dana kurang lebih Rp 200 Miliar dengan peruntukannya 80 persen membeli alat,” jelas Prof Fedik.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kemitraan, dan Bisnis USK, Prof. Dr. Ir. Taufiq S., M.Eng., IPU memaparkan, ada banyak potensi yang USK miliki untuk kolaborasi kerjasama dengan UNAIR, dan kampus yang lain.

“Untuk FKH ada beberapa program yang sedang kita kerjasama, salah satunya dengan Kementerian LHK. Usulan pengelolaan tanah 500 hektar, untuk areal praktek kedokteran hewan. Dan sekitar 4900 hektar, itu dikhususkan untuk meneliti dan menjaga harimau Sumatera, Badak, dan sebagainya,” sebut Prof  Taufiq.