Pembacaan Kitab Maulid Nabi Jadi Cabang Eksibisi di MTQMN XVI

*Ditargetkan Menjadi Cabang Lomba Resmi  MTQMN
Pergelaran Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Nasional (MTQMN) XVI di Universitas Syiah Kuala telah memasuki hari ke empat. Masyarakat pun terlihat antusias untuk menyaksikan beberapa cabang pertandingan MTQ. Bahkan beberapa tokoh Aceh terlihat hadir untuk sekadar menyaksikan event dua tahunan ini.
 Salah satu cabang pertandingan yang cukup menarik perhatian penonton adalah Musabaqah Pembacaan Kitab Maulid Nabi. Sebab pada pertandingan ini, kita terasa berada pada bulan-bulan maulid yang lazim terjadi di Aceh. Di mana sejumlah pemuda membacakan shalawat dan zikir dengan penuh semangat. Dipadu dengan gerakan yang kompak. Dalam masyarakat Aceh tradisi seperti ini lebih dikenal dengan sebutan Meudike.
Seperti yang dituturkan Ferhat saat hadir di Aula Lab School Unsyiah, yang merupakan majelis Pembacaan Kitab Maulid ini dipertandingkan. Ferhat mengakui bahwa ia begitu menikmati penampilan peserta saat menyenandungkan bacaan shalawat serta zikir maulid tersebut.
“Kalau kita orang Aceh, rasa-rasanya memang persis kayak lagi bulan maulid,” ungkapnya.
Tahun ini adalah kali pertama cabang tersebut dipertandingkan. Pada MTQMN kali ini, Pembacaan Kitab Maulid masuk katogori cabang eksebisi. Cabang ini sengaja dipersiapkan untuk masuk sebagai cabang resmi pada MTQMN mendatang. 
Meskipun statusnya hanya cabang eksebisi, namun jumlah kafilah yang turut ambil bagian pada cabang ini termasuk banyak. Dari 179 kafilah MTQMN, 18 di antaranya mengikuti cabang tersebut.
Ketua Bidang Perlombaan MTQMN XVI Prof. Dr. Mustanir, M.Sc mengatakan, cabang Pembacaan Kitab Maulid sengaja diperlombakan karena memiliki nilai-nilai syiar dan seni yang tinggi. Selain itu, salawat dan zikir adalah sebuah amalan yang sangat dianjurkan. 
Maka melalui pertandingan ini bisa memberikan moitvasi bagi orang lain untuk mengamalkannya.  Di sisi lain, tambah Mustanir, seni membaca salawat bisa bermacam-macam. Setiap daerah tentu memiliki ciri khasnya sendiri. 
“Jadi perlombaan ini salah satu penilaiannya adalah seni membacanya,” ungkap Mustanir.
Untuk itulah, panita kemudian menyepakati bahwa kitab yang dibaca pada pertandingan ini adalah kitab barzanzi. Namun pada pelaksanaanya, ternyata banyak peserta yang tidak sesuai dengan persyaratan tersebut. 
Untuk hal ini, selaku Panitia, Mustanir tidak terlalu mempermasalahkan. Mengingat cabang ini masih baru sehingga masih perlu ada penyesuaian-penyesuaian oleh peserta. Ia juga memaklumi, jika peraturannya tidak seketat cabang resmi perlombaan MTQMN lainnya.
“Namanya juga masih eksebisi, jadi wajar kalau peraturannya masih sedikit longgar,” ungkapnya.
Kafilah Unsyiah sendiri tampil memukau pada pertandingan ini. Hal ini tidak lepas dari persiapan yang telah mereka lakukan jauh hari di Masjid Kopelma Darussalam. Untuk semua perjuangan serta kesungguhan tersebut, Kafilah Unsyiah optimis bisa meraih juara pada cabang ini.