Universitas Syiah Kuala

Pasar Tradisional di Benua Biru

Oleh: Ariful Azmi Usman*

Istanbul merupakan kota bersejarah di Turki, negara yang memiliki peradaban dan sejarah yang besar, bahkan memiliki hubungan istimewa dengan Kerajaan Aceh pada abad ke-16. Mungkin saja banyak orang Aceh saat ini lupa akan semua itu, namun di Pusat Arsip Ustmani yang dikelola Departemen Arsip dan Administrasi Perdana Menteri Turki, semua manuskrip bukti hubungan bilateral dengan Aceh itu masih terdokumentasikan dengan baik. Banyak orang Aceh yang berkunjung ke Turki mengunjungi pusat arsip ini. Letaknya di wilayah Kaghitane-Boyoglu, tak jauh dari pusat Kota Istanbul.

Pada hari Selasa (5/8/2014) lalu, saat musim panas melanda Istanbul, saya mencoba menelusuri lebih jauh Istanbul, kota yang memiliki perekonomian baik di “Benua Biru”, Eropa. Terus terang, saya memang penasaran dengan sejarah Turki dan orang-orangnya.

Di bawah kepemimpinan Erdogan, Turki berhasil meningkatkan tingkat perekonomiannya sampai tiga kali lipat. Pendapatan per kapita negara ini mampu meningkat dari USD 3,492 menjadi USD 10,079 atau naik hingga 288%. Dengan pencapaian ini, Erdogan dan partainya dapat membuktikan banyak hal atas sikap skeptis para pemimpin dunia, khususnya di regional Eropa dan Timur Tengah ketika Erdogan dan partainya AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) pertama kali memenangi pemilihan umum.
Perjalanan terbilang sedikit jauh pun saya tempuh bersama seorang teman, tepatnya pada hari keempat, saya menginjakkan kaki di tanah Konstantinopel ini. Sebuah bus yang melewati Selat Bosphorus dan jembatan yang terbentang sekitar 1,5 km mengantarkan saya ke Daratan Eropa.

Menyaksikan Ayasofya dan Masjid Sultanahmet merupakan sebuah pemandangan yang tak bisa dihindari saat melintasi jembatan legendaris itu. Sesampai di tempat tujuan, kami turun dari bus dan selanjutnya melewati beberapa lorong di Istanbul. Rasa kagum dan kaget saya pun datang bersamaan. Betapa tidak, sebuah kota besar yang memiliki bangunan-bangunan besar nan megah, ternyata juga masih memiliki pasar tradisional.

Kebutuhan rumahtangga warga Istanbul, mulai dari pisau dapur hingga sayuran, tertata rapi di sepanjang lorong kota. Halk Pazari, begitu mereka menyebut pasar ini—di wilayah-wilayah tertentu di Aceh justru dinamakan uroe gantoe (hari pekan). Perlahan, saya melintasi pasar ini, terlihat begitu banyak buah dan sayuran segar yang diperdagangkan.

Tidak hanya itu, beras, ikan, hingga udang juga tersedia di tempat ini. Sebuah kamera digital yang saya jinjing menjadi alat untuk mengabadikan transaksi di pasar ini. Sebagian besar barang dagangan yang diperjualbelikan tampak sudah tertera masing-masing harga, namun sebagian pembeli juga masih sibuk tawar-menawar.

Setelah membeli beberapa keperluan seperti buah-buahan dan yang lainnya, saya mulai bertanya pada sejumlah penjual dan pembeli tentang pasar tradisional ini. Ternyata benar, saya mengambil kesimpulan, Halk Pazari adalah uroe gantoe Istanbul.
Tempat yang saya datangi pada Selasa siang itu bernama Pazarteke. Tidak hanya pada hari Selasa, pasar tradisional yang terbilang murah dibanding tempat-tempat lain di Istanbul itu pun setiap harinya berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Hari Senin di Karagumruk, Rabu di Fatih, Jumat di Findikzade, dan Sabtu di Tozkoparan.

Kehadiran pasar tradisional ini juga membuat Istanbul menjadi kota nomor wahid di dunia dalam pelestarian kegiatan ekonomi kerakyatan dan berbagai tradisi yang tetap terjaga.

Saat melewati kawasan Pazerteke, aroma rempah-rempah menyeruak hebat. Warna-warni rempah tampak mengintip dari balik tembok-tembok tua dan lorong-lorong pinggiran gedung. Melewati setiap lorongnya, seperti yang saya rasakan, adalah godaan bagi seluruh panca indra dan seakan saya sedang berada di masa Kerajaan Turki Utsmani saat masyarakat sedang membeli rempah-rempah. Aroma rempah seperti saffron hingga lada dan pala menyeruak di udara. Indra penglihatan saya dipenuhi warna-warni pasta tomat, kacang-kacangan, serta jajaran anggur segar.

Hingga selesai saya berkeliling dan mendapatkan apa yang saya inginkan, kami pun pulang. Terlintas di pikiran saya betapa hebatnya orang-orang yang mencintai dan menghargai budaya dan sejarahnya. Di balik ekonomi yang sehat, ada kekuatan yang hebat.
Kini Turki sudah besar. Sudah saatnya Aceh dan Indonesia juga mengikuti jejak ini. Jangan biarkan kebesaran Aceh di masa lampau hilang ditelan masa.[AD-be]

*Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Unsyiah, perwakilan Indonesia dalam HARMAN Internship Program, melaporkan dari Istanbul, Turki.

https://jdih.bandungkab.go.id/ https://satudata.pasuruankota.go.id/ https://geoportal.simalungunkab.go.id/ https://agentotosuper.com/ https://mbahtotokl.com/ https://apps.fkipunlam.ac.id/ https://perpus.untad.ac.id/ https://sistabok.pasuruankota.go.id/ https://pasti.slemankab.go.id/ https://servicios.cuc.uncu.edu.ar/ Kentangwin https://linklist.bio/totosuper-resmi/ https://linklist.bio/toto-kl/ https://linklist.bio/sbopoker/ https://linklist.bio/pisangbetrupiah/ https://estd.perpus.untad.ac.id/ https://comision-gfinanciera.anuies.mx/ https://krabi-railayprincess.com/ https://krabi-railayresort.com/ https://jurnal.uinsyahada.ac.id/contact/ https://ncmh.gov.mn/