Pakar kebencanaan dan ahli geofisika dari Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Nazli Ismail, S.Si, M.Si, Ph.D, mengatakan fenomena amblasnya tanah yang terjadi di Aceh Tengah belakangan ini bukanlah sinkhole (lubang runtuhan). Menurutnya, fenomena tersebut murni akibat karakteristik geologi wilayah yang didominasi endapan vulkanik.
“Itu bukan bagian dari sinkhole. Fenomena sinkhole biasanya terjadi akibat penurunan tanah di daerah kars (kapur). Meski Aceh Tengah memiliki wilayah kars, material di lokasi tersebut adalah pasir vulkanik yang tidak padat,” ujar Nazli
Nazli menjelaskan, secara geologis wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah tertutup oleh material hasil letusan gunung api berupa pasir yang belum memadat. Kondisi tanah pasir yang gembur ini memiliki daya ikat yang sangat lemah.
Kondisi tanah yang rapuh tersebut, lanjut Nazli, kian diperburuk oleh faktor eksternal. Tingginya curah hujan akibat Siklon Senyar beberapa waktu lalu menyebabkan air tanah jenuh dan melepas daya ikat antar butir pasir.
Nazli memperingatkan bahwa tanpa proteksi, reruntuhan akan terus meluas. Bahkan, guncangan dari kendaraan yang melintas di dekat lokasi bisa menjadi pemicu longsor susulan meski tanpa hujan.
“Air yang mengalir dari perbukitan mencari tempat lebih rendah, meresap, dan membuat pasir kehilangan kekuatan. Sekarang, dengan sedikit hujan saja sudah cukup untuk memicu pergerakan tanah,” tuturnya.
Menanggapi risiko perluasan wilayah yang amblas, Nazli menawarkan dua solusi utama bagi pemerintah daerah, yaitu memproteksi fisik atau membangun tanggul penahan untuk mengunci pergerakan tanah secara cepat.
Namun, ia mengakui langkah teknis ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Tetapi, ada solusi Berbasis Komunitas. Yakni melakukan reboisasi atau penanaman pohon yang memiliki sistem perakaran kuat untuk mengikat tanah berpasir.
Nazli menekankan pentingnya pendekatan community-based atau berbasis masyarakat. Selain lebih ekonomis, langkah reboisasi dinilai mampu meningkatkan kesadaran warga akan ancaman bencana di lingkungan mereka.
“Jika tidak ada mitigasi serius, perluasan akan terus terjadi karena seluruh wilayah di sekitar situ adalah tanah berpasir. Pemerintah harus segera melakukan proteksi,” pungkasnya
Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, luasan area terdampak lubang raksasa tersebut tercatat sekitar 28.000 meter persegi pada 2022, dan meningkat menjadi 30.172 meter persegi per Januari 2026. Data itu tercantum dalam surat resmi ESDM Aceh Nomor 500.10.5.3/162 tertanggal 27 Januari 2026.
Wilayah Aceh Tengah sendiri didominasi oleh batuan dan endapan vulkanik, yang sebagian besar berupa pasir hasil aktivitas gunung api pada masa lalu.