Pakar Ekonomi USK Ingatkan Dampak Rendahnya Serapan APBA

Pakar ekonomi dari Universitas Syiah Kuala Muhammad Nasir mengingatkan dampak dari rendahnya serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) tahun 2021 terhadap perekonomian Aceh. (Banda Aceh, 7 Juli 2021).

Berdasarkan informasi yang dilansir Antara, Muhammad Nasir mengatakan perlu adanya optimalisasi dalam penyerapan anggaran APBA sehingga dapat menggerakan roda perekonomian yang lebih baik di masa mendatang.

“Secara ekonomi, masih rendahnya realisasi anggaran tersebut memiliki dampak pada kinerja perekonomian daerah, implikasi lain dirasakan pada pertumbuhan ekonomi,” ujar Dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK tersebut.

Berdasarkan data resmi Pemerintah Aceh dalam Percepatan dan Pengendalian kegiatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (P2K-APBA), dari total pagu anggaran 2021 sebesar Rp16,763 triliun, sampai hari ini baru terealisasi sekitar 25,5 persen atau sekitar Rp 4,2 triliun, dan realisasi tersebut masih rendah.

Nasir menyampaikan, rendahnya serapan APBA 2021 tersebut berimplikasi pada minimnya penyerapan tenaga kerja, hingga melambatnya penurunan tingkat kemiskinan.

“Bahkan secara khusus juga akan berdampak pada rendahnya aggregate demand (nilai permintaan) masyarakat melalui penurunan konsumsi rumah tangga,” ujarnya.

Dirinya menyampaikan, pada APBA tersebut terdapat belanja pemerintah dan juga subsidi, dan itu menjadi suatu komponen penting dalam aggregate demand masyarakat yang bisa mempengaruhi konsumsi dan pertumbuhan ekonomi Aceh.

Selanjutnya Nasir menilai, perekonomian Aceh sampai hari ini masih ditandai dengan dominasi belanja pemerintah dalam mendorong pertumbuhan serta penyerapan tenaga kerja. Ditambah lagi pada masa pandemi covid-19 dengan penurunan kinerja sektor riil.

‚ÄúPeran pengeluaran pemerintah diharapkan bisa membantu pemulihan ekonomi daerah ini,” katanya.

Dalam kesempatan ini, Nasir menuturkan, sesuai data Bank Indonesia 2021, peningkatan perekonomian Aceh triwulan I dipengaruhi oleh meningkatnya konsumsi pemerintah baik bersumber dari APBN maupun APBA. Sehingga peningkatan dalam daya serap APBA pada triwulan II 2021 ini diharapkan bisa memperkuat kinerja ekonomi Aceh.

Pada triwulan I 2021 perekonomian Aceh masih mengalami kontraksi sebesar 1,95 persen (dari tahun ke tahun). Terjadi peningkatan dalam realisasi APBN pada pos belanja modal, sedangkan realisasi APBA mengalami penurunan baik secara nominal maupun persentase.

Nasir menyebutkan, berdasarkan laporan perekonomian Aceh pada Mei 2021 yang disampaikan Bank Indonesia, dalam hal ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat, tingkat pengangguran terbuka (TPT) triwulan I 2021 lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

“TPT Aceh pada Februari 2021 tercatat sebesar 6,30 persen meningkat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya,” pungkasnya.

Leave a Reply