Para penerima pendanaan 1000 Wirausaha Muda USK (WMU) adakan pertemuan dalam rangka mempersiapkan diri untuk meraih peluang investasi lanjutan. Beberapa kelompok mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) yang selama ini telah berkembang dengan baik dalam usahanya membahas rencana ‘naik kelas’ bersama pengelola program 1000 WMK. (Banda Aceh, 25 Agustus 2024).
Beberapa usaha yang terus berkembang tersebut, sebut saja seperti Usaha Ayam Guling, Budidaya Bawang Ibrahim Farm, Es Chocoplay, Gelato, Jasa Konveksi dan lainnya. Kepala Bagian Kewirausahaan USK, Dr. Evi Ramadhani, S.Si., M.Si., menyampaikan, selama ini beberapa mahasiswa USK yang didanai untuk mendapatkan pinjaman bagi pengelolaan usahanya, adalah dalam rangka untuk memenuhi kriteria pendanaan yang sering diminta oleh berbagai pihak ke USK.
Evi menjelaskan, program 1000 WMU ini adalah salah satu cara mempersiapkan mereka untuk memiliki pengalaman dan kompetensi sebagai usaha yang telah berjalan 1-2 tahun nantinya.
“Karena kita sering sekali diminta usaha yang akan dibantu oleh lembaga perbankkan dan lembaga keuangan adalah bagi usaha yang telah berjalan paling tidak 1 atau 2 tahun,” ujar Evi yang juga merupakan dosen pengajar kewirausahaan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USK itu.
Paling tidak ada 3 skema pendanaan yang sering diminta oleh pemberi dana, yaitu secara kompetisi, hibah maupun pinjaman. Tidak tanggung-tanggung pendanaan ini bisa antara 50-500 juta.
“Oleh sebab itu, kami sangat berharap anak-anak mahasiswa USK yang sudah kita bantu dengan dana terbatas dari USK ini bisa menunjukkan kredibilitas usahanya, sehingga untuk ‘naik kelas’ dan dapat pendanaan lebih besar akan sangat terbuka peluang,” sebut Evi yang merupakan dosen sekaligus pengusaha perhotelan itu.
Direktur Direktorat Prestasi dan Kewirausahaan USK, Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP, M.Sc., dalam kesempatan yang sama turut menyampaikan bahwa tidak mudah membangun jiwa kewirausahaan bagi mahasiswa, berbagai tantangan dihadapi, mulai dari jadwal aktivitas kuliah, dukungan dosen yang tidak semua setuju mahasiswa berwirausaha, sampai larangan dari orang tua.
Dinamika ini tentulah harus kami hadapi, namun kenyataannya di Aceh bahwa daya serap tenaga kerja kita khususnya untuk pegawai dan karyawan berkisar antara 0,9 – 1,2 %, artinya tipis sekali peluangnya.
“Sehingga berwirausaha adalah pilihan yang sangat logis untuk dilakukan selama mereka kuliah hingga kemudian saat lulus, mereka telah terbiasa berwirausaha,” sebut Rahmat.
Rahmat mengatakan, program 1000 WMU ini paling tidak untuk menghasilkan mahasiswa berwirausaha yang dapat diukur keberhasilannya meliputi cicilan yang lunas, laporan kegiatan dan transaksi keuangan yang baik, kehadiran pendampingan, aktif pembimbingan bersama dosen pembimbing dan memiliki profil usaha.
“Ini akan jadi modal bagi kami untuk meneruskan usaha mereka ke para donatur atau pendanaan lainnya yang mengharapkan usaha mahasiswa itu sudah berjalan dan ditunjukkan dengan indikator aktivitas usahanya,” terang Rahmat.
Hadir pula turut memberikan bimbingan adalah Dr. Elly Sufriadi, S.Si, M.Si., yang menjelaskan tentang peran perguruan tinggi dalam mendampingi keberlanjutan wirausaha mahasiswa secara berkesinambungan.
“Adik-adik kami undang hari ini untuk mendiskusikan bersama aktifitas apalagi yang dapat kami berikan dukungan dari universitas, agar usaha adik-adik terus semakin maju dan berkembang, sehingga kesempatan mendapatkan pendanaan lebih besar dan ‘naik kelas’ dapat diwujudkan dengan pasti,” bahas Elly yang juga dosen FMIPA USK dan pengusaha jasa ekspedisi itu bersemangat.
Diskusi semakin menarik dengan bahasan strategi marketing yang disampaikan oleh Ir. Sayyid Afdhal El-Rahimi, S.Kel, M.Si., yang memotivasi para mahasiswa dengan sebuah bahasan terkait Sales Army. “Ya tantara penjualan, mirip tantara bayaran, dimana mereka menjadi orang-orang yang kita organisir untuk melakukan pemasaran produk yang kita hasilkan dengan sejumlah komitmen sharing keuntungan,” urai Afdhal yang merupakan dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) USK sekaligus pengusaha metal detektor itu di hadapan para mahasiswa yang hadir.
Acara di akhiri dengan komitmen bersama dan setuju menjadikan forum ini dilakukan setiap bulan untuk mengupdate perkembangan dan menemukan solusi-solusi atas berbagai permasalahan yang mungkin dapat dibantu dan dikembangkan lebih baik lagi kedepan.