Mahasiswa USK Ulas Dunia Kampus Dan Mahasiswa Dalam Buku “Kampus Undercover”

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala (USK), Rahmat Fahlevi berhasil menyelesaikan sebuah buku berjudul “Kampus Undercover”. Buku ini memuat beberapa kritik terhadap dunia kampus dan mahasiswa era kini yang menurutnya tidak lagi berjalan pada garis idealismenya. Misalnya, mahasiswa sering kali ditunggangi oleh politisi saat melakukan demonstrasi sehingga kehilangan virtue sebagai jiwa pergerakan, sering kali terdapat kecurangan dalam kegiatan pemilihan raya (PEMIRA) di kampus, adanya fundamentalisme agama, agitasi politik kampus dengan menggunakan simbol agama, infiltrasi radikalisme, korupsi dalam tubuh organisasi mahasiswa, distorsi organisasi mahasiswa, dan berbagai hal lain terkait kehidupan kampus dan mahasiswa.

Rahmad menjelaskan, buku ini hadir sebagai jawaban atas berbagai problematika kampus. Kampus undercover mengurai benang kusut yang ada sehingga diharapkan bagi para mahasiswa yang mengemban jabatan di kampus dapat menjadikannya sebagai problem solving dari setiap masalah kampus.

Buku Kampus undercover terdiri dari sembilan bab. Salah satu point penting dalam buku ini yaitu terkait lembaga mahasiswa adalah ketiadaan lembaga yudikatif sebagai pelengkap trias politika dan lembaga pengawas dalam ranah mahasiswa. Mahkamah mahasiswa sangatlah diperlukan, selain untuk memberi keputusan terkait anomali yang terjadi dalam Pemira juga memberi sanksi bagi mahasiswa yang melakukan disorientasi dalam berorganisasi berupa korupsi.

Buku ini juga menjelaskan bahwa dunia kampus adalah simulasi terbaik sebelum menuju dunia perpolitikan nyata yang mana kampus sebagai step pertama untuk mengevaluasi moralitas mahasiswa dalam berpolitik dan menyayomi sesama mahasiswa.

Selain itu, tambah Rahmad, di beberapa bab buku ini juga mengutip referensi dari magnum opusnya Ibnu Khaldun yaitu Muqaddimah untuk menjelaskan bagaimana komparasi etos Mahasiswa sekarang dengan teori siklus asyhabiyah dan kehidupan masyarakat hadrah dan badawah pada saat itu.

Penulis beranggapan, etos mahasiswa di era sekarang ini sama halnya seperti masyarakat hadrah (menetap) yaitu masyarakat yang hidup dengan peradaban menetap seperti kerajaan dan kekhilafahan yang terlena dengan kemegahan sehingga menurunkan etos kerja masyarakatnya.
Lain halnya dengan badawah atau badui yaitu masyarakat yang tidak menetap melainkan nomaden atau berpindah-pindah yang dimana mereka memiliki etos kerja yang kuat, kemampuan menjaga diri yang baik, mempunyai potensi masing-masing sehingga tidak menggantungkan hidup kepada orang lain atau tembok-tembok tinggi untuk melindungi dirinya.

Leave a Reply