Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) yang tergabung dalam program USK Mengabdi 2026 terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pemulihan pascabencana di Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues.
Pada hari kedua pelaksanaan program, mahasiswa menghadirkan berbagai kegiatan yang berfokus pada pemulihan psikososial anak dan peningkatan kesejahteraan lansia. Kegiatan diawali dengan senam bersama yang diikuti mahasiswa dan masyarakat Desa Agusen sebagai upaya membangun kebersamaan sekaligus mengedukasi pentingnya menjaga kesehatan melalui aktivitas fisik.
Selanjutnya, mahasiswa melaksanakan psikoedukasi bagi anak-anak melalui permainan plastisin yang bertujuan membantu mereka mengekspresikan emosi, melatih kreativitas, serta mendukung pemulihan psikososial dalam suasana yang menyenangkan.
Pada siang hari, mahasiswa melaksanakan program Sahabat Lansia dengan mengunjungi rumah-rumah lansia secara door to door. Melalui percakapan yang hangat dan penuh empati, mahasiswa menggali informasi mengenai kondisi kesehatan, lingkungan tempat tinggal, serta kebutuhan para lansia sebagai bahan penyusunan program pendampingan yang lebih tepat sasaran.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH menegaskan bahwa pemulihan pascabencana harus dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan kelompok rentan di masyarakat.
Menurutnya, pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali infrastruktur, tetapi juga memulihkan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.
“Anak-anak dan lansia merupakan kelompok yang membutuhkan perhatian khusus. Melalui USK Mengabdi, kami ingin memastikan kehadiran mahasiswa dapat memberikan manfaat nyata dalam proses pemulihan dan membangun ketangguhan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) USK menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program ini merupakan wujud nyata kontribusi generasi muda dalam mendukung pemulihan masyarakat pascabencana. Mahasiswa tidak hanya hadir untuk melaksanakan program kerja, tetapi juga belajar mendengarkan dan memahami kebutuhan masyarakat.
“Pendampingan bagi anak-anak dan lansia di Desa Agusen menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana harus dilakukan secara bersama-sama dan menjangkau seluruh kelompok masyarakat,” ungkapnya.