Mahasiswa KKN USK Lakukan Program Pengabdian di Desa Sagoe Tempeun

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Syiah Kuala kelompok 131 melakukan berbagai program pengabdian kepada masyarakat di Desa Sagoe Teumpeun, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie.

Program pengabdian tersebut, di antaranya adalah membantu untuk meningkatkan kondisi dan kualitas di sekolah MIN 34 Pidie serta melihat potensi para murid di sekola tersebut. Kehadiran mereka disambut baik oleh pihak sekolah, baik kepala sekolah, guru-guru, dan staf sekolah.

Di sekolah tersebut, mereka melakukan beberapa aktivitas yaitu Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pengenalan sampah organik dan anorganik, lomba berhitung dan pengenalan rambu lalu lintas kepada para murid.

Pada awalnya, mereka berencana untuk membuat program kerja lanjutan di sekolah. Namun, ternyata sekolah diliburkan karena cuti bersama. Mareka langsung mengubah rencana kami menjadi awalnya akan ke sekolah menjadi ke kantor keuchik. Mereka langsung mengumpulkan anak-anak dan mengajak mereka untuk berpartisipasi dalam dua kegiatan, yaitu sosialisasi sistem jaminan halal dan praktek menggosok gigi yang benar.

Pada sosialisasi sistem jaminan halal, mereka menunjukkan contoh produk halal dan cara melihat logo halal pada produk yang nantinya anak-anak bisa lebih teliti dalam mengkonsumsi produk. Selanjutnya, pada program praktek menggosok gigi mereka  melibatkan anak anak untuk mengedukasi dan demonstrasi gosok gigi. Kegiatan praktek gosok gigi menjadi langkah penting dalam meningkatkan kesadaran dan kebiasaan kesehatan mulut sejak dini. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesadaran dengan pendekatan yang kreatif dan interaktif.

Mahasiswa KKN ini bekerja sama dengan  puskesmas dalam menangani stunting, yaitu dengan mendukung upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai stunting serta membantu dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting. Melalui kerja sama ini, diharapkan masyarakat dapat lebih sadar dan teredukasi mengenai stunting serta mengambil langkah langkah yang diperlukan untuk mencegah stunting. Dengan keterlibatan mahasiswa KKN dan puskesmas diharapkan dapat tercipta perubahan positif dalam penanganan stunting dan meningkatkan kualitas hidup anak.

Selanjutnya, mahasiswa USK ini juga melakukan branding produk lokal. Di Desa Sagoe Teumpeun, mereka melihat potensi biji melinjo atau sering disebut kerupuk mulieng sebagai produk yang bisa diperluas pasarnya. Mereka menyoroti teknik pembuatan yang turun-temurun dan bahan-bahan berkualitas tinggi yang digunakan untuk menghasilkan kerupuk Mulieng yang lezat dan renyah.

Mereka  menekankan pentingnya kerupuk Mulieng sebagai bagian dari identitas lokal daerah setempat. Kerupuk ini tidak hanya merupakan makanan lezat, tetapi juga menjadi simbol dari kearifan lokal dan warisan kultural yang ingin kami lestarikan dan promosikan melalui branding yang tepat. Mereka  yakin bahwa branding produk lokal kerupuk Mulieng memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan memberikan manfaat bagi semua pihak terkait.

Leave a Reply