Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA) Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) sukses menyelenggarakan aksi edukatif bertajuk “Zen-Fomo: Zillenial Empowerment for Nurturing Focus, Output, Mind, & Overall Wellness”. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk talkshow virtual melalui Zoom Meeting ini diikuti antusias oleh puluhan mahasiswa dari berbagai program studi kesehatan, Sabtu (17/1).
Program ini diinisiasi sebagai respons terhadap tingginya tekanan akademik, tuntutan klinis, serta dinamika sosial yang kerap memicu fenomena FOMO (Fear of Missing Out) di kalangan generasi Z. Tujuan utamanya adalah memperkuat kesadaran mahasiswa mengenai krusialnya keseimbangan kesehatan mental dan fisik dalam menunjang produktivitas.
Edukasi Komprehensif dari Tiga Perspektif
Ketua Panitia, Muhammad Faiz Akbar, menjelaskan bahwa sesi edukasi menghadirkan tiga pakar lintas disiplin untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh bagi para peserta. Ketiga pemateri tersebut adalah: Dr. dr. Nur Wahyuniati, M.Imun (Pakar Imunologi/Kesehatan Fisik), Wenny Aidina, M.Psi., Psikolog (Pakar Psikologi), dan Ns. Noraliyatun Jannah, M.Kep (Pakar Keperawatan).

Dalam sesi talkshow interaktif, para pemateri memaparkan pentingnya menjaga mind-body balance sebagai fondasi utama menghadapi tekanan lingkungan yang semakin kompleks. Peserta tidak hanya diajak berdiskusi secara teoritis, tetapi juga diberikan teknik praktis untuk mengelola stres yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun di lingkungan klinis nantinya.
“Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen nyata CIMSA FK USK untuk berkontribusi aktif dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, dimulai dari penguatan kapasitas mahasiswa kesehatan itu sendiri,” ujar Faiz Akbar.
Senada dengan hal tersebut, Local Coordinator CIMSA FK USK, Ikhwan Syafawi, menekankan bahwa “Zen-Fomo” sejalan dengan prinsip organisasi yang mengedepankan inklusivitas. Menurutnya, kolaborasi lintas ilmu adalah kunci utama dalam setiap gerakan CIMSA untuk menciptakan transformasi kesehatan.
“Kegiatan ini hadir sebagai jembatan untuk mempererat kolaborasi antarcalon tenaga kesehatan, sekaligus menjadi instrumen penting dalam mendukung visi organisasi untuk mentransformasi kualitas kesehatan nasional secara lebih inklusif dan berdampak luas,” ungkap Ikhwan.
Untuk mengukur efektivitas program, panitia juga menyelenggarakan post-test guna memantau sejauh mana peserta menyerap materi baru yang disampaikan. Ikhwan berharap inisiatif seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Melihat antusiasme dan relevansi isu yang diangkat, kami berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkala karena memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa dalam menjaga kesejahteraan menyeluruh (overall wellness),” pungkasnya.