Di sebuah sudut sunyi Gampong Meunasah Dayah, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen, udara seolah bergetar. Suara tabuhan itu bukan sekadar bunyi; ia adalah detak jantung masa lalu yang sempat meredup, namun kini kembali dipanggil pulang. Rapai Kaoy, kesenian yang telah menyatu dengan tanah Aceh selama 150 tahun, kembali menggema.
Bagi masyarakat lokal, Rapai Kaoy bukanlah sekadar tontonan. Ia adalah bahasa syukur. Selama satu setengah abad, setiap tabuhannya menjadi saksi nazarnya orang-orang yang melepas beban di pundak mereka, atau doa-doa yang dipanjatkan agar bulir padi di sawah terhindar dari serangan hama.
Namun, zaman yang bergerak cepat nyaris membuat tradisi ini menjadi fosil. Hingga akhirnya, sekelompok mahasiswa KKN USK Kelompok 192 datang dan mencoba merajut kembali helai-helai tradisi yang mulai berserakan.
Ketua kelompok KKN, Aanda, adalah orang di balik upaya ini. Sebagai anggota Grup Rapai Syuhada, ia memahami bahwa Rapai Kaoy adalah artefak hidup. “Kita ingin menghidupkan kembali warisan budaya yang diwariskan leluhur secara turun-temurun,” ujarnya.
Apa yang membuat Rapai Kaoy begitu memikat? Jawabannya terletak pada “ruhnya”. Setiap tabuhan perkusi ini tidak berdiri sendiri; ia dikawinkan dengan lantunan selawat kepada Rasulullah SAW dan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Ini bukan hiburan semata, melainkan media dakwah yang telah mengakar kuat dalam denyut nadi masyarakat Aceh.
Aanda melihat ada tanggung jawab moral yang besar di pundak generasi muda. Di tengah gempuran tren global, menjaga tradisi adalah bentuk perlawanan terhadap kepunahan identitas. “Rapai Kaoy bukan sekadar seni tabuh. Ia mengandung sejarah, napas keislaman, dan semangat kebersamaan,” tegasnya.
Kini, suara Rapai Kaoy di Tanah Syuhada kembali menemui jalannya. Namun, perjalanan ini baru dimulai. Aanda bermimpi, ke depan, Rapai Kaoy tak lagi sekadar menjadi simbol masa lalu yang dipajang di museum, melainkan tetap hidup, dinamis, dan terus dimainkan di setiap helatan adat maupun keagamaan.
Untuk menjaga detak jantung tradisi ini tetap berdetak, kolaborasi adalah kunci. Butuh tangan-tangan masyarakat, pemerintah, hingga tokoh adat untuk memastikan bahwa 150 tahun ke depan, anak cucu kita masih akan mendengar suara yang sama—suara Rapai Kaoy yang memanggil kita untuk kembali ke akar.