Universitas Syiah Kuala

Inkubator Seni USK Dorong Kampus Inklusif Berbasis Riset, Kreativitas, dan Ruang Sosial Mahasiswa

Banda Aceh — Universitas Syiah Kuala (USK) terus memperkuat pengembangan ekosistem kreativitas mahasiswa melalui penguatan Inkubator Seni Berbasis Riset di bawah koordinasi Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK. Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi informal yang berlangsung di Banda Aceh, Minggu (17/5/2026), bersama unsur pimpinan universitas, dosen, pengelola program, dan mahasiswa lintas bidang.

Pertemuan tersebut dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH, yang menegaskan pentingnya membangun ruang kreatif kampus yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan seremonial, tetapi juga mampu membentuk ekosistem sosial, budaya, dan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

“Inkubator seni memiliki potensi besar, bukan hanya untuk pengembangan mahasiswa, tetapi juga sebagai bagian dari penguatan industri kreatif dan pengembangan revenue generating universitas,” ujar Dr. Rina.

Menurutnya, pengembangan seni dan humaniora saat ini memiliki posisi strategis dalam pembangunan kampus modern, terutama dalam menciptakan ruang kolaborasi lintas disiplin, penguatan kreativitas mahasiswa, serta peningkatan kualitas interaksi sosial di lingkungan universitas.

Direktur Inkubator Seni Berbasis Riset USK, Ari J. Palawi, menjelaskan bahwa pengembangan inkubator seni diarahkan sebagai ruang kolektif mahasiswa yang terbuka, inklusif, dan berbasis aktivitas kreatif berkelanjutan.

Ia menekankan bahwa ruang seni kampus tidak boleh menjadi milik kelompok tertentu semata, melainkan harus menjadi ruang hidup bersama yang dapat diakses oleh seluruh mahasiswa, termasuk komunitas lintas budaya dan mahasiswa internasional.

“Kampus membutuhkan ruang sosial yang sehat, terbuka, dan memberi kesempatan mahasiswa untuk bertumbuh sebagai manusia, bukan sekadar sebagai angka akademik,” ujarnya.

Dalam diskusi tersebut turut dibahas pengembangan ruang terbuka kreatif seperti Skate Park Stage, mural kampus, pertunjukan komunitas, ruang diskusi mahasiswa, hingga konsep “Taman Hijau Seni” sebagai ruang interaksi sosial, healing, dan aktivitas kreatif mahasiswa.

USK juga menegaskan bahwa pengembangan inkubator seni tidak diarahkan pada pembangunan fasilitas mewah, melainkan lebih berfokus pada penguatan kebutuhan dasar dan optimalisasi ruang yang telah tersedia di lingkungan kampus.

“Prinsipnya adalah memanfaatkan ruang yang ada agar lebih hidup dan produktif bagi mahasiswa,” tambah Ari.

Diskusi tersebut turut dihadiri sejumlah dosen dan penggerak komunitas kampus, di antaranya Zulfikar Taqiuddin, S.Sn., M.T., Dr. Kismullah, S.Pd., M.Eng.Ling., Fachroza, S.Pi., Dr. Monalisa, S.P., M.Si., Hendra Halim, Sandy Islamanda, serta mahasiswa yang selama ini aktif mengembangkan ruang kreatif mahasiswa di lingkungan USK.