Universitas Syiah Kuala

Imam Maulana, Wisudawan Unsyiah yang Lulus tanpa KKN dan Skripsi

Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) melalui Sidang Terbuka yang dipimpin Rektor, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng IPU kembali mewisuda 1.201 lulusan di Gedung AAC Dayan Dawood, Kopelma Darussalam, Banda Aceh, Rabu (5/2/2020).

Menariknya, dari 1.201 lulusan yang diwisuda kemarin, terdapat satu orang mahasiswa yang lulus tanpa harus melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan tanpa harus menyelesaikan tugas akhir (skripsi). Padahal, kedua hal tersebut merupakan syarat wajib yang harus dicapai setiap mahasiswa  agar dapat mengenakan toga dan berhak menyandang gelar sarjana.

Adalah Imam Maulana, mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter tahun 2015 yang mendapat pengecualian itu. Ia merupakan satu-satunya lulusan yang memperoleh keistimewaan untuk tidak mengikuti KKN dan 'hadiah' pembebasan skripsi.

“Semua anugerah ini merupakan buah dari doa, ikhtiar, dan tawakkal serta peran orang-orang di sekitar saya” ucapnya.

Alumni SMA Fatih Bilingual School ini pun menceritakan, bahwa keistimewaan tersebut tidak didapat secara cuma-cuma. Namun, ada usaha dan pengorbanan yang dilakukan. Usaha tersebut dimulai sejak akhir tahun 2017, di mana ia bersama 4 rekannya mengajukan proposal Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Masyarakat (PKMM) ke Kemenristekdikti dan lulus untuk didanai.

Mereka menggagas program Santri Dayah First Aider (SADAR), yakni pelatihan dan pembinaan keterampilan pertolongan pertama pada kecelakaan di Dayah Markaz Al-Ishlah Al-Aziziyah.

“Sudah menjadi sebuah aturan dari rektorat bahwa mahasiswa yang lulus pendanaan PKMM akan menjadikan programnya sebagai bagian dari KKN, jika selama pelaksanaan telah mengambil mata kuliah tersebut,” jelas Imam.

  

Hal ini lah yang membuatnya tidak perlu mengikuti KKN ke Gayo Lues pada tahun 2018 lalu. Program SADAR juga lulus untuk dipertandingkan di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-31 di Yogyakarta pada 2018 lalu.

Namun, tidak mendapat juara. Meski demikan, program tersebut  telah diterapkan di empat dayah unggulan di Banda Aceh dan Aceh Besar. Masing-masing yaitu Dayah Inshafuddin, Dayah Darul Ulum, Dayah Al-Manar, dan Dayah Nidhamul Fata.

Sementara keistimewaan 'bebas skripsi' Imam peroleh dari Fakultas Kedokteran. Hal ini bermula ketika akhir tahun 2019, ia kembali mengajukan proposal PKMM kepada Kemenristekdikti. Untuk mengembangkan Paket Edukasi Bencana yang Islami (PECI) dan Paket Kesenian Mitigasi Bencana (PASMINA) yang diadaptasi dari nandong smong.

Bersama tim, ia berhasil memecahkan rekor meraih medali emas pertama untuk Aceh, Unsyiah, dan Fakultas Kedokteran di ajang mahasiswa paling bergengsi PIMNAS ke-32 di Universitas Udayana Bali pada 2019 lalu. Bukan cuma itu, Imam juga mempresentasikan karya ilmiahnya tersebut pada konferensi internasional di Bogor dan Sendai, Jepang.

Berkat deretan prestasi tersebut, ia mendapatkan penghargaan dari Plt Gubernur Aceh sebagai salah satu dari 10 Pemuda Aceh Berprestasi 2019.

“Saya pribadi tidak tahu pastinya mana yang menjadi alasan untuk diberikan keringanan bebas skripsi tersebut. Apapun alasannya, saya sangat bersyukur atas penghargaan ini," kenang Imam.

Lulus dengan predikat sangat memuaskan, Imam Maulana akan melanjutkan pendidikan profesi dokter pada akhir Februari ini. Saat ini ia menjabat sebagai Direktur Eksekutif LSM Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A). 

https://bkpsdm.tubankab.go.id/ https://siakad.uinbanten.ac.id/ https://centrodeservicio.ecci.edu.co/ecci/ https://linktr.ee/pisangbetslot https://daftartotosuper.com/ https://ingattotokl.com/ https://toto-kl.rpg.co.id/ https://mez.ink/totosuper.idn pisangbet https://baidich.com/rewards/ https://fib.unair.ac.id/fib/