FDGI 2023 di USK, Bahas Arah Pendidikan untuk Indonesia Emas dan Jadikan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional

Forum Dewan Guru Besar Indonesia di USK: Bahas Arah Pendidikan menuju Indonesia Emas 2045

Puluhan profesor dari berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia membahas permasalahan pendidikan Tanah Air. Pertemuan dan bahasan tersebut merupakan agenda dari Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI) dimana Universitas Syiah Kuala (USK) bertindak sebagai tuan rumah.

Di hari kedua, setelah pembukaan resmi dilanjutkan dengan seminar yang membahas tema: Sinergi Sektor Pendidikan Tinggi dalam Pencapaian Indonesia Emas 2045. Selain puluhan profesor dari berbagai kampus Tanah Air, turut hadir guru besar dari Majelis Profesor Negara (MPN) Malaysia.

Ketua FDGBI 2021-2023, Prof. Arief Ansyori Yusuf, M.Sc., Ph.D mengutarakan bahwa, FDGBI sangat spesial karena memenuhi empat unsur yang khas, yaitu intelektualitas, leadership, inklusivitas, dan heterogenitas.

“Salah satu agenda utama dari FDGI, menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Ke depan, dalam konteks akademik, kita akan mendorong dan membuat sebuah jurnal berbahasa Indonesia yang terindeks internasional,” tutur Prof Arief.

Wakil Rektor Bidang Akademik USK, Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si., IPU dalam sambutannya mengatakan, ada tiga peran penting guru besar dalam mengisi pendidikan.

Pertama, mengarahkan universitas. Perkembangan USK yang pesat: dari PTN-Satker ke PTN-BLU, hingga naik kelas menjadi PTN-BH dalam kurun waktu empat tahun, menjadi contoh yang baik dari pada kolaborasi kerja keras bersama, dan arahan serta kontribusi para guru besar terhadap institusi pendidikan.

“Tidak hanya berubah status, namun mutu pendidikan juga terjaga. Hal ini ditunjukkan oleh pengakuan dari The Higher Educations World University Rankings 2023, yang menempatkan USK sebagai kampus top peringkat 8 di Indonesia,” kata Prof Agussabti.

Fakta tersebut berkorelasi dengan penambahan jumlah profesor di USK yang kuantitasnya melonjak tajam. Tahun 2018, USK hanya memiliki sekitar 80 profesor. Naik bekali lipat menjadi 170-an guru besar pada tahun 2023. Menurutnya, fenomena tersebut bisa dimaknai dengan, pertumbuhan jumlah guru besar sejalan dengan harumnya reputasi kampus.

“Tugas kedua dan ketiga yang tidak kalah penting dari peran profesor adalah menciptakan budaya pembelajaran yang dinamis, serta mendorong perkembangan intelektualitas mahasiswa,” jelas WR USK.

Presiden Majelis Profesor Negara (MPN) Malaysia, Prof. Raduan Che Rose menjadi keynote speech pada seminar tersebut, dengan bahasan: Maintaining Synergy and Competition among universities: Malaysian Experience.

Pj Gubernur Aceh, Achmad Marzuki menyambut baik FDGBI 2023 di USK. Dalam jamuan makan malam, ia menyatakan siap menerima rekomendasi dari para guru besar Indonesia untuk mengisi pembangunan Aceh secara khusus, dan Indonesia secara umum.

Salah satu harapannya, bagaimana para guru besar lintas pakar bisa mendesain pendidikan yang memungkinkan para mahasiswa sejak semester awal hingga lanjutannya, untuk bisa turun langsung ke lapangan. Berkolaborasi dengan pemerintah untuk transfer pengetahuan bagi masyarakat, serta menangkal segala ancaman yang dapat merusak peradaban.

“Masalah hilirisasi di bidang pendidikan perlu.
Rekomendasikan untuk Aceh dulu, untuk bisa menangkal semua ancaman yang dapat membuat kita gagal sampai ke Indonesia emas 2045. Jangan sampai kita kecelakaan demografi,” sebut Pj Gubernur Aceh.