Universitas Syiah Kuala

Dukung SDGs 14 dan 15, USK Perkuat Masyarakat Pesisir serta Lembaga Pendidikan dalam Pelestarian Ekosistem Laut dan Darat

Universitas Syiah Kuala (USK) terus menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi berdampak melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Pengabdian kepada Masyarakat bertema Penguatan Masyarakat Pesisir dan Lembaga Pendidikan dalam Pelestarian Ekosistem Laut dan Darat di Aceh untuk Mendukung Pencapaian SDGs 14 dan SDGs 15.

Kegiatan ini dibuka oleh Ketua Equity USK Prof. Dr. drh. Muslim Akmal, M.P. mewakili Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Ir. Marwan, di Banda Aceh, Jumat (13/2/2026).

Dalam sambutannya, Prof. Muslim Akmal menegaskan bahwa Aceh sebagai wilayah yang memiliki garis pantai panjang serta kekayaan hutan tropis membutuhkan model kolaborasi yang terintegrasi untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alamnya. Menurutnya, tantangan degradasi pesisir, abrasi, penurunan kualitas terumbu karang, hingga deforestasi dan alih fungsi lahan hendaknya dijawab dengan pendekatan ilmiah berbasis riset dan pengabdian masyarakat.

“USK berkomitmen mendukung pencapaian SDG 14 (Life Below Water) dan SDG 15 (Life on Land) melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, komunitas pesisir, dan dunia usaha. Kampus harus hadir memberikan solusi konkret, bukan hanya wacana,” ujarnya.

Ketua Equity USK tersebut juga menjelaskan bahwa FGD ini difokuskan pada penguatan kapasitas masyarakat pesisir dalam pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan, rehabilitasi mangrove, dan konservasi terumbu karang. Selain itu, diskusi juga menyoroti pentingnya perlindungan keanekaragaman hayati darat melalui reboisasi, penguatan hutan adat, serta pengendalian kebakaran dan perambahan hutan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan program EQUITY USK 2025–2026 yang mendorong integrasi riset, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Ketua Equity USK Prof. Muslim Akmal menyampaikan bahwa capaian USK dalam pemeringkatan internasional harus diiringi dengan kontribusi nyata terhadap penyelesaian persoalan lingkungan di Aceh.

“Sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan memiliki kawasan hutan yang luas, Aceh memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut dan darat. USK ingin memastikan bahwa inovasi kampus dapat memperkuat ketahanan ekologis sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber nasional dan akademisi terkemuka, yakni Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, M.Sc dari IPB University serta Prof. Dr. Nur Fadli, S.Pi., M.Sc dari USK. Dalam paparannya, Prof. Indra Jaya menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi kelautan dan sistem pemantauan berbasis sains untuk menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan dan ekosistem pesisir. Ia menyoroti perlunya integrasi data oseanografi, pengelolaan perikanan berbasis kuota, serta penguatan literasi maritim di kalangan generasi muda.

Sementara itu, Prof. Nur Fadli memaparkan urgensi rehabilitasi terumbu karang dan penguatan kawasan konservasi berbasis masyarakat di Aceh. Menurutnya, pelibatan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya dalam program adopsi terumbu karang, edukasi pengurangan sampah laut, serta riset kolaboratif menjadi strategi efektif untuk mendorong kesadaran ekologis sejak dini.

Peserta kegiatan berasal dari Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Dinas-Dinas Kabupaten/Kota, Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Aceh, Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee,  unsur panglima laot Aceh, Perguruan Tinggi Negeri dan swasta di Aceh, serta sivitas akademika USK.

Dalam sesi diskusi, peserta merumuskan sejumlah rekomendasi strategis untuk mendukung SDG 14 dan SDG 15. Untuk SDG 14, rekomendasi meliputi penguatan kawasan konservasi laut berbasis masyarakat, rehabilitasi mangrove dan terumbu karang, pengurangan sampah plastik di wilayah pesisir melalui edukasi dan bank sampah sekolah, serta peningkatan kapasitas nelayan dalam praktik perikanan berkelanjutan.

Sementara itu, untuk SDG 15, peserta mendorong percepatan rehabilitasi hutan dan lahan kritis, penguatan pendidikan lingkungan hidup sejak dini, pengembangan desa konservasi berbasis kearifan lokal, serta kolaborasi penelitian untuk perlindungan spesies endemik Aceh.

Di akhir kegiatan, USK menegaskan komitmennya untuk menindaklanjuti rekomendasi tersebut dalam bentuk program pengabdian terukur, penguatan kurikulum berbasis lingkungan, serta kemitraan berkelanjutan dengan pemerintah dan komunitas. Melalui langkah ini, USK berharap kontribusi akademik tidak hanya memperkuat reputasi institusi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kelestarian ekosistem laut dan darat di Aceh serta percepatan pencapaian SDGs di tingkat daerah.

https://bkpsdm.tubankab.go.id/ https://siakad.uinbanten.ac.id/ https://centrodeservicio.ecci.edu.co/ecci/ https://linktr.ee/pisangbetslot https://daftartotosuper.com/ https://ingattotokl.com/ https://toto-kl.rpg.co.id/ https://mez.ink/totosuper.idn pisangbet https://baidich.com/rewards/ https://fib.unair.ac.id/fib/ https://aheartfulloflove.com/service