Dua mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Tim yang terdiri dari TM Hanif Mustaghfirillah dari Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, dan Emirsyah Ilyas dari Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, berhasil meraih Juara I (1st Winner) dalam International Essay Competition Friend of the Sea (FOS) 2026.
Prestasi tersebut diraih melalui karya esai berjudul “From Coast to Plate: Waste Management Infrastructure as a Frontline Defense for Coastal Public Health in the Microplastic Crisis Era”, dengan subtema Marine Pollution.
Karya tersebut dibimbing oleh Ir. Jumelia Ardika, S.T., M.T., dari Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala.
Esai ini mengangkat persoalan pencemaran mikroplastik dari sudut pandang yang berbeda dengan mempertemukan dua disiplin ilmu, yaitu teknik sipil dan ilmu kedokteran. Tim menyoroti bagaimana persoalan sampah yang tidak tertangani dengan baik dapat mengalir dari daratan menuju sungai, laut, hingga akhirnya masuk ke rantai makanan manusia.
Melalui gagasan “From Coast to Plate”, tim menjelaskan bahwa pencemaran laut tidak semata-mata merupakan persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan masyarakat.
Esai tersebut menggambarkan sebuah rantai sebab-akibat yang sederhana namun penting: sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat masuk ke sistem perairan, kemudian terfragmentasi menjadi mikroplastik, dikonsumsi oleh organisme laut, dan pada akhirnya berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan laut.
Tim juga mengangkat berbagai bukti ilmiah mengenai keberadaan mikroplastik dalam lingkungan dan tubuh manusia. Esai merujuk pada penelitian yang menemukan partikel mikroplastik pada jaringan plasenta manusia dan dalam darah manusia, sehingga memperkuat urgensi untuk melihat pencemaran plastik sebagai isu yang tidak hanya menyangkut ekosistem laut, tetapi juga kesehatan manusia.
Dalam konteks Indonesia, persoalan tersebut dinilai semakin penting karena masyarakat pesisir memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap sumber daya laut, terutama ikan dan hasil perikanan lainnya.
Salah satu gagasan utama yang ditawarkan dalam esai ini adalah menempatkan infrastruktur pengelolaan sampah sebagai garis pertahanan pertama (first line of defense) bagi kesehatan masyarakat pesisir.
Tim mengusulkan pendekatan pencegahan dengan menghentikan sampah sebelum mencapai laut, bukan hanya melakukan pembersihan setelah pencemaran terjadi.
Beberapa solusi yang ditawarkan antara lain penguatan fasilitas pengelolaan sampah berbasis masyarakat seperti TPS3R yang terintegrasi dengan Material Recovery Facility (MRF), pemasangan river interceptor dan floating barriers di jalur masuk sampah menuju laut, pemanfaatan constructed wetlands dan gross pollutant traps pada sistem drainase, serta penggunaan teknologi digital seperti AI-assisted waste detection dan sensor pemantauan sampah.
Selain pendekatan teknologi, esai juga mengusulkan penguatan digital waste bank sebagai bagian dari mekanisme ekonomi sirkular. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan insentif ekonomi kepada masyarakat agar pengelolaan dan pemilahan sampah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Keunikan utama karya ini terletak pada pendekatan lintas disiplin yang digunakan oleh kedua mahasiswa.
TM Hanif Mustaghfirillah sebagai mahasiswa Teknik Sipil membawa perspektif mengenai bagaimana infrastruktur dapat dirancang untuk mencegah sampah masuk ke lingkungan perairan. Sementara itu, Emirsyah Ilyas sebagai mahasiswa Pendidikan Dokter memperkuat perspektif mengenai bagaimana pencemaran tersebut pada akhirnya berhubungan dengan paparan dan risiko kesehatan manusia.
Keduanya membangun gagasan bahwa penanganan pencemaran laut tidak dapat dilakukan hanya melalui satu bidang ilmu. Infrastruktur perlu dirancang dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, sementara pendekatan kesehatan masyarakat juga perlu memahami bagaimana pencemaran bergerak dari sumbernya hingga mencapai manusia.
Dalam esai, tim juga membandingkan pendekatan berbasis infrastruktur dengan sejumlah pendekatan lain, seperti kegiatan pembersihan pantai dan laut, kampanye kesadaran masyarakat, serta penanganan penyakit setelah terjadi paparan.
Menurut gagasan yang dikembangkan dalam karya tersebut, mencegah sampah mencapai laut akan memberikan dampak yang lebih strategis dibandingkan mencoba membersihkan mikroplastik yang telah tersebar di laut. Intervensi pada titik hulu, seperti sungai dan sistem pengelolaan sampah, dinilai lebih memungkinkan untuk dilakukan secara efektif dan berkelanjutan.
Gagasan yang ditawarkan dalam esai juga memiliki keterkaitan dengan sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 (Good Health and Well-Being), SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water).
Tim menekankan bahwa perlindungan laut pada akhirnya bukan hanya mengenai menjaga ekosistem bawah laut, tetapi juga melindungi sumber pangan, mata pencaharian masyarakat pesisir, dan kesehatan generasi mendatang.
Keberhasilan TM Hanif Mustaghfirillah dan Emirsyah Ilyas menjadi salah satu contoh kolaborasi lintas disiplin di lingkungan Universitas Syiah Kuala.
Kolaborasi antara mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas Kedokteran tersebut menunjukkan bahwa isu lingkungan dan kesehatan masyarakat dapat dikaji secara lebih komprehensif ketika berbagai disiplin ilmu bekerja bersama.
Melalui capaian Juara I pada Friend of the Sea: International Essay Competition 2026, keduanya tidak hanya membawa nama Fakultas Teknik dan Fakultas Kedokteran, tetapi juga mengharumkan nama Universitas Syiah Kuala di tingkat internasional.
Karya “From Coast to Plate” pada akhirnya membawa satu pesan utama: menjaga laut tidak berhenti pada upaya menyelamatkan ekosistem, tetapi juga berarti menjaga apa yang sampai ke meja makan dan melindungi kesehatan masyarakat pesisir untuk generasi yang akan datang.