Universitas Syiah Kuala

Dua Mahasiswa USK Belajar Konservasi Ekosistem Laut Melalui  UM-AUN Summer Camp 2026 di Universiti Malaya

Dua mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK), Ammar Faqih Zulkarnain dari Program Studi Agribisnis, dan Teuku Ghalib Alpasha dari Program Studi Teknik Industri mengikuti UM-AUN Summer Camp 2026 di Universiti Malaya, Malaysia. Kegiatan tahun ini mengusung tema “Blue Horizon: Advancing Sustainable Oceans” dan berfokus pada isu keberlanjutan ekosistem laut.

Program yang berlangsung selama 12 hari tersebut diikuti oleh 60 mahasiswa terpilih dari berbagai negara. Di antaranya Malaysia, Indonesia, Kamboja, Myanmar, Thailand, Jepang, Cina, Libya, Brunei, dan Vietnam. Peserta mendapatkan pengalaman pembelajaran yang memadukan kegiatan akademik di dalam kelas bersama dosen dan pakar Universiti Malaya dengan pembelajaran berbasis lapangan.

Salah satu kegiatan lapangan dilaksanakan di Port Dickson, Negeri Sembilan. Dalam kegiatan tersebut, para peserta mempelajari secara langsung berbagai aspek riset konservasi serta strategi menjaga keberlanjutan ekosistem laut. Pengalaman ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat bagaimana konsep keberlanjutan diterapkan dalam pengelolaan wilayah pesisir dan laut.

Bagi Ammar dan Ghalib, keikutsertaan dalam program ini tidak hanya menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk bertukar pengalaman dan budaya dengan mahasiswa dari berbagai negara. Sebagai putra asli Banda Aceh yang tumbuh dekat dengan dinamika wilayah pesisir dan maritim, isu yang diangkat dalam program tersebut dinilai memiliki keterkaitan erat dengan kondisi Aceh.

“Motivasi terbesar kami berakar dari keinginan untuk bertukar wawasan budaya di tingkat regional, mengingat kami berdua adalah putra asli Banda Aceh yang tumbuh dekat dengan dinamika wilayah pesisir dan maritim. Selain itu, tema program ini sangat relevan dengan disiplin ilmu kami di USK,” ujar Ammar.

Ia menjelaskan, latar belakang keilmuan keduanya memberikan perspektif yang berbeda dalam melihat isu ekonomi dan keberlanjutan maritim. Ammar yang berasal dari Agribisnis memiliki perhatian pada ketahanan rantai pasok dan tata kelola ekonomi biru (blue economy). Sementara itu, Ghalib dari Teknik Industri menaruh perhatian pada efisiensi proses, optimasi sistem sirkular, serta pengelolaan limbah industri maritim.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi keduanya adalah ketika mengerjakan proyek akhir. Peserta dari berbagai latar belakang keilmuan ditantang untuk merumuskan strategi konkret dalam mendukung pengembangan pariwisata kelautan yang berkelanjutan (sustainable marine tourism) di Malaysia.

“Pengalaman berkesan terasa dari atmosfer kolaboratif bersama seluruh 60 partisipan dari berbagai universitas yang semuanya merupakan mahasiswa sangat aktif dan berpikiran kritis. Menyatukan beragam perspektif keilmuan untuk menciptakan solusi pariwisata laut yang ramah lingkungan sekaligus bernilai ekonomi memberikan wawasan baru tentang pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pelestarian maritim,” ungkap mereka.

Selama program berlangsung, interaksi antara mahasiswa dan para dosen juga berlangsung dinamis, inklusif, dan suportif. Di luar kegiatan akademik, peserta saling bertukar cerita mengenai budaya serta pengalaman masing-masing negara dalam mengelola wilayah pesisir. Sementara itu, dosen dan peneliti Universiti Malaya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan, menguji validitas ide, dan melihat tantangan kelautan Asia Tenggara dari perspektif global.

Dari pengalaman tersebut, Ammar dan Ghalib berharap dapat membawa pulang berbagai pengetahuan dan gagasan untuk dikembangkan di USK. Salah satu hal yang mereka nilai penting adalah perlunya kolaborasi lintas disiplin ilmu, khususnya antara bidang agro, teknik, dan kelautan, dalam merespons berbagai tantangan lingkungan pesisir di Aceh.

“Kami ingin mendorong inisiatif berbasis ekonomi sirkular dan pengolahan hasil laut minim limbah di kampus, serta menggerakkan kesadaran mahasiswa untuk berkontribusi aktif dalam riset maupun aksi nyata demi menjaga keberlanjutan ekosistem maritim lokal”Pungkasnya.