Dosen USK: Mengembalikan Kejayaan Cengkih Aceh dengan Cara Melestarikan Hutan

Cengkih atau cengkeh [Syzygium aromaticum] pernah menjadi tanaman primadona di sejumlah daerah Provinsi Aceh. Sebut saja di Kabupaten Aceh Besar, Kota Sabang, Simeulue, juga Aceh Barat Daya. Bunga tanaman ini telah menghidupi masyarakat mulai dari pemilik kebun, pekerja, hingga pengepul.

Namun kini, cengkeh tidak lagi mempesona seperti dulu kala. Ada banyak faktor, dari soal monopoli harga, dsb. Dosen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) Dr. Muhammad Sayuthi mengatakan, belum ada penelitian khusus terkait penyebab matinya tanaman cengkih petani.

“Sejauh ini berdasarkan keterangan mereka, penyebab utamanya hama penggerek batang dan kemarau panjang,” katanya, sebagaimana dimuat pada laman mongabay.co.id.

 Lingkungan rusak, termasuk tutupan hutan yang berkurang, menyebabkan suhu naik. Ulat juga beradaptasi dengan menjadikan tanaman cengkih sebagai inang, atau sebagai tempat tinggal. Hal ini yang menyebabkan cengkeh mati.

 “Selain itu, juga dipengaruhi perubahan iklim, hujan terjadi dengan cepat dan kemarau berlangsung lama. Banyak tumbuhan tidak mampu bertahan dengan kondisi ini,” lanjutnya.

Sayuthi mengatakan, sedikit perubahan yang terjadi di dunia, termasuk naiknya naik, akan berdampak pada kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Termasuk, pada tumbuh-tumbuhan.

“Solusinya adalah mengembalikan kembali fungsi hutan dan menjaga kelestarian lingkungan. Jika dibiarkan, akan banyak tanaman budidaya yang tidak akan bisa hidup lama,” tutupnya.

Leave a Reply