Dosen USK Ajarkan Inovasi Budidaya Nilam dan Produk Trurunannya Kepada Masyarakat Gampong Bada

Dosen Universitas Syiah Kuala yang tergabung dalam tim pengabdian masyarakat berbasis produk (PKMBP) melakukan pengenalan inovasi budidaya nilam dan produk turunannya kepada masyarakat Gampong Bada Kemukiman Lamteungoh, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Tujuan dari PKMBP ini adalah untuk memberikan pengetahuan serta keterampilan kepada masyarakat tentang budidaya nilan pembuatan produk turunannya. Kegiatan ini dilakukan selama tiga bulan, sejak Mei hingga Agutus 2021.

Tim ini terdiri dari Dr. Ir. Indra, MP (Dosen FP USK) sebagai ketua tim, serta Surayya Kamaruzzaman, MT. (Dosen FT USK) dan Halimursyadah, M.Si. (Dosen FP USK) sebagai anggota. Ketiga dosen ini juga merupakan peneliti pada Pusat Studi ARC PUI-PT Nilam USK.

Dilansir dari dialeksis.com (8/9/21), pengabdian masyarakat ini juga sebagai upaya untuk memcahkan dua persoalan terkait nilam. Pertama, harga minyak nilam Aceh yang tidak stabil, berfluktasi tinggi. Pada saat harga tinggi (1 juta per kg), para petani ramai-ramai menanam nilam, meski mereka harus mengkonversi tanaman lain ke nilam. Lalu kemudian ketika masa panen harga minya nilam tiba-tiba anjlok menjadi 250-350 ribu per kg. kondisi ini membuat petani nilam sangat dirugikan dan dampaknya mereka menjadi semakin miskin. Penyebab utamanya, tataniaga nilam Aceh sejak puluhan tahun dikuasi oleh padagang besar Medan.

Masalah yang kedua adalah produktivitas kebun nilam yang masih relatif rendah. Satu hektar kebun nilam hanya dapat menghasilkan minyak sekitar 100-150 kg saja. Hal ini disebabkan karena sistem budidaya nilam para petani di Aceh masih mengunakan cara-cara tradisional dimana pengetahuan mereka tentang budidaya nilam hanya diperoleh secara turun temurun tanpa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini.

Dua persolaan tersebut diharapkan bisa sedikit terpecahkan dengan pelaksanaan PKMPB ini. Kegiatan dari PKMBP ini meliputi pemberian pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat (petani) tentang cara-cara bagaimana “meunilam” yang sesuai dengan Best Management Practise (BMP) budidaya nilam. Materi yang diberikan diperkaya dengan pengalaman lapangan yang dimiliki tim pengabdian saat mereka membina petani melalui ARC PUI-PT Nilam USK.

Sejumlah inovasi terkait budidaya nilam diperkenalkan kepada masyarakat, mulai dari pemilihan dan pengadaan bibit nilam, takaran dan komposisi pemberian pupuk kimia dan organik, pengolahan lahan, hingga panen dan pasca panen.

Tak hanya sebatas materi, tim pengabdian masyarakat USK juga mengajak para petani membuat lahan percontohan (demplot) penanaman nilam di lahan milik gampong. Kegiatan ini diharapkan dapat memecahkan permasalahan kedua di atas.

Selanjutnya,  tim pengabdian USK juga mengajarkan masyarakat tentang cara membuat produk turunan nilam, seperti membuat parfum dan sabun cuci piring. Ini bertujuan tak hanya untuk sumber penghasilan baru bagi para masyarakat, juga untuk membuka peluang pasar baru dari minyak nilam Aceh.

Untuk keberlanjutan masyarakat membuat parfum, tim pengabdian USK menghibahkan satu set peralatan dan bahan-bahan untuk pembuatan parfum. Hasil evaluasi dari kegiatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat di Gampong Bada telah memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam budidaya nilam dan membuat produk turunannya.Bahkan, saat ini masyarakat Gampong Bada telah mulai memproduksi parfum sendiri untuk tujuan bisnis, bekerja sama dengan BUMG setempat.

Leave a Reply