Dosen Universitas Syiah Kuala menghibahkan alat teknologi adaptasi plik-u untuk masyarakat Gampong Blang Kreung, Aceh Besar. Hibah itu merupakan bagian pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Produk (PKMBP) yang didanai LPPM Unsyiah. (Banda Aceh, 17 Oktober 2020).
Beradasarkan informasi yang dari Serambinews.com, perancang alat teknologi ini yaitu Dr. Rita Khatir menjelaskan, alat tersebut adalah alat pengering terowongan yang diberi nama Honenheim, pengepres hidrolik, alat kukur kelapa elektrik, 1 set perlengkapan produksi, dan 1 set kemasan serta label kemasan dengan brand “Meugah Pliek”.
"Hohenheim ini memanfaatkan energi matahari, mempunyai kolektor surya, menggunakan efek rumah kaca dan mempunyai panel surya. Jadi tidak membutuhkan listrik sedikit pun dan yang paling kita bisa menjamin kebersihan dan kehalalan produk pliek-u yang dikeringkan di alat ini," kata Rita.
Rita mengatakan, pliek-u yang dikeringkan dalam alat hohenheim punya banyak kelebihan. Di samping punya rasa lebih enak dan produk lebih steril, pliek-u juga bisa disimpan lebih lama. Rita menyimpan pliek-u yang ia bikin sejak tahun 2015 saat ia menciptakan alat honhenheim. Sampai hari ini ia mengaku pliek-u tersebut masih bagus dan sedikit pun tidak mengubah rasa.
"Pliek-u yang dikeringkan di pengeringan hohenheim tahan 2 tahun jika disimpan di suhu luar dan tahan 5 tahun disimpan di dalam kulkas," kata Rita.
Sementara itu adalah alat pengepres hidrolik. Dengan menggunakan alat ini, proses pengepresan minyak pliek dapat dilakukan dengan sangat mudah serta higienis dengan nilai rendaman minyak yang dihasilkan lebih banyak, serta pliek-u yang dihasilkan tidak mengandung minyak sama sekali.
Alat pengering hohenheim dirancang dengan rangka besi dengan ukuran 1×4 meter. Alat itu dilengkapi dengan empat loyang alumunium sebagai tempat penjemuran pliek atau kelapa yang telah difermentasi.
Alat itu juga dilengkapi 4 kipas 12 volt dan solar panel 10WP. Untuk mengalirkan aliran panas dalam loyang, perancang melengkapi absoler seng gelombang hitam di dalam alat pengering itu.
Rita Khathir mengatakan, dirinya telah melakukan penelitian tentang alat ini sejak tahun 2015, di mana produk pertama yang diuji coba di alat ini adalah pliek-u.
Pliek-u yang dihasilkan pada tahun 2015 mempunyai daya simpan sampai 2 tahun tanpa penurunan kualitas dan diakui sangat lezat rasanya oleh masyarakat. Teknisi yang setia membantunya dalam mewujudkan hasil rancangan ini adalah suaminya sendiri yaitu Khairul Syahmega.
Kolaborasi keduanya dalam memperbaiki rancangan alat pengering ini selama beberapa tahun telah membuahkan hasil seperti mendapatkan penghargaan juara 1 dalam lomba gelar teknologi tepat guna kota Banda Aceh tahun 2019. Beberapa industri rumahan di Banda Aceh juga telah mengadopsi alat pengering itu.
Selain Rita, mereka yang bergabung dalam kegiatan itu adalah Dr. Sri Hartuti, dan Yunita, S.Si., M.Sc serta turut melibatkan 3 orang mahasiswa Teknik Pertanian dan 1 orang mahasiswa Teknik Elektro yang akan menyelesaikan tugas akhir.
Mereka berharap modal teknologi yang diberikan ini, para mitra diharapkan dapat mengembangkan industri pengolahan pliek-u secara berkelanjutan.
"Harapan kami agar outcome yang dapat dicapai dari kegiatan ini adalah peningkatan animo masyarakat untuk membangun industri pengolahan pliek-u dengan perbaikan teknologi sehingga menghasilkan produk yang berkualitas dan dikemas dengan baik untuk dipasarkan sampai ke luar daerah Aceh," kata Rita.
Rita mengatakan rencana penelitian selanjutnya adalah perancangan sistem kontrol suhu dan kelembaban dengan PID controller pada alat pengering terowongan Hohenheim.
Untuk terlaksananya perencanaan ini, seorang pakar elektronika yaitu Dr. Melinda, dari program studi Teknik Elektro akan bergabung dengan tim dosen perempuan ini.