Diminati Prancis, Aceh Tamiang Gandeng USK Perluas Lahan Budidaya Nilam

Kualitas nilam Aceh semakin diakui dunia menyusul terbukanya pangsa pasar ke Prancis. Pemerintah Indonesia pun melalui Bappenas dan UKM sudah menetapkan Aceh sebagai daerah pengembangan nilam.

Terbukanya pangsa pasar Eropa ini sudah diawali beberapa tahun lalu melalui kerja sama yang melibatkan Universitas Syiah Kuala dengan sebuah perusahaan asal Prancis. Peluang ini pun coba ditangkap Pemkab Aceh Tamiang untuk meningkatkan kembali produktivitas nilam.

Pemkab Aceh Tamiang menggandeng Universitas Syiah Kuala (USK), dalam hal ini pakar. Mursil menjelaskan pakar tersebut merupakan Syaifullah Muhammad yang saat ini menjabat Direktur Bisnis USK/Ketua ARC PT Nilam Aceh. Sebelumnya dia sudah melibatkan Pemkab Aceh Tamiang melalui Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala menjajaki kerjasama dengan Australia untuk mengembangkan budidaya nilam.

“Aceh Tamiang sejak dulu merupakan salah satu daerah penghasil nilam terbesar dan terbaik, kita mencoba membangkitkan budidaya ini lagi,” kata Bupati Aceh Tamiang, Mursil, Minggu (28/8).

Mursil mengungkapkan saat ini budidaya nilam masih dilakukan sebagian masyarakat di Kecamatan Sekerak. Pemerintah daerah sudah melakukan beberapa kali analisis pengembangan budidaya ini ke wilayah hulu Aceh Tamiang.

“Hari ini kita sudah memiliki pakar nilam yang memiliki akses ke Prancis, beliau ini sudah menarik investor yang bersedia membantu mengembangkan nilam Aceh,” ungkap Mursil, sebagaimana dimuat pada laman Serambinews.com.

Kerja sama ini dilakukan melalui webinar yang diikuti unsur mitra di antaranya, Dubes RI di Canbera Kristianto Legowo, Direktur IIPC Sidney Henry Rombe, asosiasi pengusaha dan unsur pemerintahan Asutralia.

Sedangkan dari Pemerintah Aceh diikuti langsung Gubernur, kemudian Kadis DPMPTSP Marthunis, Direktur Bisnis USK/Ketua ARC PT Nilam Aceh Syaifullah Muhammad serta Kepala Bank Indonesia Aceh Iwan Budhiarta.

Kepala Bappeda Aceh Tamiang, Rianto Waris mengatakan webinar yang dilangsungkan pada 12 Agustus itu bertujuan mengenalkan nilam kepada investor dari Australia.

“Ketika pangsa pasar sudah jelas, tidak ada kekhawatiran bagi kita untuk mengembangkan nilam lebih serius lagi,” ujarnya.

Diketahui lahan perkebunan nilam di Aceh Tamiang pernah menyusut dalam tujuh tahun terakhir. Anjloknya harga menjadi pemicu utama yang memaksa petani mengalihkan fungsi lahannya ke tanaman lain.

Muhammad Syahrial, pegiat tanaman nilam di Aceh Tamiang mengungkapkan menyusutnya lahan ini terjadi antara periode 2014-2016. Dalam perode itu, minyak nilam yang biasanya berkisar Rp 500 ribu per kilogram terjun bebas menjadi Rp 200 ribu.

“Kondisi harga yang rendah ini berlangsung lama, sehingga banyak petani kita mengalihkan lahan nilamnya menjadi sawah dan tanaman lainnya,” kata Syahrial.

Syahrial mengungkapkan rendahnya harga ini perlahan membaik dan saat ini untuk kualitas terbaik dihargai Rp 670 ribu. Peningkatan harga yang cukup signifikan ini pun mulai kembali menarik minat petani untuk memfungsikan lahannya melakukan budidaya nilam.

Syahrial yang merupakan Wakil Ketua I Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Aceh Tamiang mengungkapkan nilam merupakan tanaman yang pernah sangat berjaya di Aceh Tamiang karena digunakan untuk terapi kesehatan.

“Zaman andong (nenek) kami sudah sering digunakan untuk sauna, memang dulu nilam terbaik dari Aceh Tamiang,” kata Syahrial.

Leave a Reply