Bank Sampah Universitas Syiah Kuala (BSU) memberikan edukasi kepada ribuan mahasiswa baru kampus ini terkait pengelolaan sampah dan menjaga kelestarian lingkungan.
Edukasi ini disampaikan oleh Pembina BSU USK Prof. Dr. Ir. Eti Indarti, M.Sc dan Ketua BSU USK Rahma Herawati, MP pada rangkaian kegiatan Pembinaan Akademik dan Karakter Mahasiswa Baru (PAKARMARU) Tahun 2025 di Gedung AAC Dayan Dawood. (Banda Aceh, 14 Agustus 2025).
Kegiatan edukasi ini dipandu oleh Wakil Dekan Kemahasiswaan, Alumni, dan Kemitraan Fakultas Kelautan dan Perikanan USK Prof. Dr. Ir. Muhammad Irham, S.Si, M.Si., IPU.
Prof. Eti dalam presentasinya menjelaskan, kehadiran BSU adalah bentuk komitmen USK dalam mewujudkan kelestarian lingkungan, dengan cara mengurangi sampah di lingkungan kampus.
Dirinya menyebutkan, saat ini Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) menerima sekitar 300 ton sampah setiap harinya. Sampah-sampah tersebut sebagian besarnya dari sampah rumah tangga.
Dan jika dikaji lebih jauh, timbunan sampah di TPA ini merupakan salah satu penyebab naiknya pemanasan global. Sebab proses pembusukan sampah organik di TPA menghasilkan gas rumah kaca terutama metana (CH₄) dan karbon dioksida (CO₂). Senyawa ini memerangkap panas di atmosfer.
“Oleh karena itu USK sangat konsen dengan lingkungan sekitar dan seluruhnya, sehingga kita membangun bank sampah tujuannya adalah untuk mengurangi beban TPA tersebut,” ucap Guru Besar Fakultas Pertanian USK tersebut.
Apalagi pada tahun 2030 pemerintah tidak akan membangun lagi TPA, sehingga sampah-sampah tersebut akan dikelola sendiri di tempat asalnya. Karena itulah, kehadiran BSU adalah bentuk tanggung jawab universitas untuk mulai menjawab persoalan sampah tersebut.
Untuk itulah, Prof. Eti mengajak mahasiswa baru ini untuk menjadi lebih peduli dengan sampahnya. Dirinya mengungkapkan, selama ini BSU telah terlibat aktif dalam upaya-upaya pengurangan sampah di lingkungan kampus.
Pada setiap kegiatan universitas, termasuk kegiatan PAKARMARU ini BSU telah melakukan pemilahan sampah. Selain itu, BSU turut memproduksi kompos dan eco enzyme. Serta aktif melakukan edukasi pengelolaan sampah baik di lingkungan kampus maupun masyarakat sekitar.
Prof. Eti pun turut mengajak mahasiswa baru USK ini untuk menjadi nasabah BSU. Di mana setiap sampah yang mereka kumpul dan pilah, dapat ditukar menjadi rupiah di BSU.
Selanjutnya, Rahma menilai pimpinan USK telah menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pengurangan sampah di kampus ini. Komitmen seperti ini sangatlah penting dalam mewujudkan lingkungan kampus yang bebas sampah.
Rahma menyebutkan, saat ini Rektor USK sudah mengeluarkan Surat Edaran No 8 Tahun 2022 tentang larangan penggunaan kemasan makanan/minuman berbahan plastik di lingkungan universitas.
Adapun poin larangan tersebut di antaranya adalah tidak boleh menggunakan kemasan makanan/minuman berbahan plastik pada setiap kegiatan universitas, maupun unit kerja. Lalu menyediakan dispenser air minum dan gelas di setiap ruang pertemuan atau aula. Serta melakukan pengawasan terkait pelaksanaan surat edaran ini di lingkungan masing-masing.
Untuk itulah, Rahma mengajak mahasiswa baru ini untuk lebih peduli. Dirinya menilai mahasiswa baru ini harus menjadi pengawal sampah di USK. Setiap kita harus bertanggung jawab dengan sampahnya sendiri. Kesadaran ini penting demi mewujudkan lingkungan kampus yang bersih.
“Ayo patuhi surat edaran ini. Kalian adalah pengawal kebersihan. Mari kita jaga USK dan Indonesia ini menjadi lebih baik,” ucapnya.