Universitas Syiah Kuala

BI dan Unsyiah Bahas Pengembangan Kayu Putih

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh bekerja sama dengan Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Bank Aceh Syariah membahas pengembangan kayu putih, dalam forum diskusi yang mengambil tema “Pengembangan Komoditas Unggulan Atsiri Subsektor Kayu Putih (Meulaleuca Leucadendra)”.

Kegiatan yang bertujuan untuk mendorong potensi minyak atsiri sebagai salah satu komoditas potensial Aceh ini berlangsung di Ruang Auditorium Teuku Umar, Kantor BI setempat, Selasa (28/1/2020).

Dikutip dari Serambinews.com, pertemuan tersebut juga bertujuan untuk membahas lebih detil mengenai potensi pengembangan kayu putih sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru di Aceh.

Setiap tahun nilai impor kayu putih diperkirakan mencapai 3.000 ton per tahun atau senilai Rp 1 triliun per tahun. Secara industri, minyak kayu putih ditengarai mengalami kekurangan bahan baku, sehingga potensi pengembangan masih cukup terbuka baik dari segi ketersediaan lahan maupun permintaan pasar.

Kepala Kantor Perwakilan BI Aceh, Zainal Arifin Lubis dalam sambutannya menyampaikan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya yang perlu dilakukan dalam rangka mendukung pengembangan industri berbasis komoditas unggul dari hulu ke hilir.

Dikatakan, kebutuhan dan permintaan domestik minyak kayu putih masih cukup tinggi sekitar 4.500 ton per tahun. Sementara kapasitas produksi dalam negeri masih terbatas dan diprakirakan hanya mampu memproduksi 500 ton per tahun.

Hal ini merupakan peluang bisnis yang patut dan layak untuk dikembangkan. “Pengembangan komoditas unggulan merupakan salah satu kunci untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi daerah khususnya untuk komoditas yang berorientasi ekspor atau substitusi impor seperti kayu putih ini,” ujarnya.

Ketua ARC Unsyiah, Dr Syaifullah menambahkan di sisi inovasi, Balai Besar Bioteknologi Pemuliaan Tanaman Hutan telah menemukan varietas baru dengan tingkat rendemen 2,05-4,7 persen dengan kadar Sineol 65-73 persen. Harga minyak kayu putih dapat mencapai Rp 260.000/kg (dengan kadar sineol 60 persen).

Tanaman kayu putih memiliki kelebihan antara lain mampu tumbuh di lahan kritis dan relatif tahan terhadap serangan hama penyakit maupun hewan. Ini juga termasuk tanaman tua sehingga tidak memerlukan biaya modal dan operasional yang tidak terlalu tinggi.

Secara ekonomis, berdasarkan studi yang dilakukan ARC Unsyiah, tingkat gross margin per hektar lahan kayu putih berkisar Rp 36.000.000 per hektar untuk setiap siklus panen (8 bulan).

"Dengan demikian, pengembangan kayu putih diharapkan dapat memberikan dampak bagi kesejahteraan masyarakat Aceh yang banyak terlibat dalam sektor pertanian,” katanya. 

https://bkpsdm.tubankab.go.id/ https://siakad.uinbanten.ac.id/ https://centrodeservicio.ecci.edu.co/ecci/ https://linktr.ee/pisangbetslot https://daftartotosuper.com/ https://ingattotokl.com/ https://toto-kl.rpg.co.id/ https://mez.ink/totosuper.idn pisangbet https://baidich.com/rewards/ https://fib.unair.ac.id/fib/