Universitas Syiah Kuala

Andriy Anta Kacaribu Raih Gelar Doktor USK di Usia 26 Tahun

Andriy Anta Kacaribu menorehkan capaian akademik di usia 26 tahun setelah berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Program Percepatan Doktor (PRUUPD).

Gelar tersebut dikukuhkan dalam Sidang Promosi Doktor Sekolah Pascasarjana USK melalui disertasi berjudul “Biokonversi Anaerobik Limbah Pertanian Menggunakan Kultur Mikroba Campuran untuk Produksi Asam Organik.” (Banda Aceh, 23 September 2026).

Penelitian ini mengkaji pemanfaatan limbah pertanian melalui proses biokonversi anaerobik untuk menghasilkan asam organik bernilai tambah dan mendukung pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.

Sidang tersebut dibimbing oleh Prof. Dr. Darwin, S.TP., M.Sc., Prof. Dr. Yuliani Aisyah, S.TP., M.Si., dan Prof. Dr. Febriani, S.Si., M.Si., serta diuji oleh Prof. Dr. Murna Muzaifa, S.TP., MP., Prof. Dr. Ir. Irfan, M.Sc., dan Prof. Dr. Ir. Tyas Utami, M.Sc. dari Universitas Gadjah Mada. Sidang dipimpin Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Keuangan USK, Dr. Fairuzzabadi, S.E., M.Sc., dengan Direktur SPs USK, Prof. Dr. drh. Muslim Akmal, M.P., sebagai sekretaris.

Perjalanan akademik Andriy berlangsung sangat cepat dan konsisten. Ia menyelesaikan pendidikan S1 kimia di FMIPA USK dengan IPK 3,67. Pendidikan itu dia tempuh hanya dalam waktu sekitar 3,5 tahun.  dan mendapat Beasiswa Bidikmisi.

Selanjutnya, ia menempuh S2 Teknologi Industri Pertanian USK, meraih IPK 4,00 dalam sekitar 1,4 tahun, serta memperoleh Beasiswa Program Riset Unggulan USK. Pada 2023, ia melanjutkan ke jenjang doktor melalui PRUUPD.

Produktivitas riset menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Andriy telah menghasilkan lebih dari 20 artikel ilmiah pada jurnal internasional bereputasi Q1, Q2, dan Q3, dengan H-index Scopus 6. Selama penyusunan disertasi, ia juga menghasilkan 10 artikel jurnal internasional bereputasi tinggi, dengan tema penelitian meliputi limbah pertanian, POME, sustainable aviation fuel, dan material karbon berbasis biomassa.

Namun, di balik deretan prestasi tersebut terdapat perjuangan yang tidak ringan. Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, Andriy tumbuh di Subulussalam setelah orang tuanya berpisah ketika ia berusia delapan tahun dan ayahnya meninggal dua tahun kemudian.

Saat SMP Negeri 3 Sultan Daulat, ia terbiasa berjalan kaki lebih dari 10kilometer setiap hari untuk pergi-pulang sekolah dan berjualan makanan ringan untuk membantu kebutuhan hidup.

Keterbatasan tidak menghentikan langkahnya. Sejak SD hingga SMA, ia konsisten meraih peringkat pertama di kelas. Setelah lulus SMA pada 2018, ia diterima di USK melalui jalur SNMPTN dengan dukungan Beasiswa Bidikmisi. Dari perjalanan tersebut, langkahnya kemudian berkembang dari ruang kelas menuju laboratorium, publikasi internasional, hingga ruang sidang doktor.

Kisah Andriy menunjukkan bahwa keterbatasan bukan selalu akhir dari sebuah perjalanan. Dengan ketekunan, kesempatan pendidikan, dan kerja keras, jalan yang panjang sekalipun dapat membawa seseorang menuju pencapaian yang jauh lebih besar.

Kini, perjalanan itu memasuki babak baru. Gelar doktor bukan akhir, melainkan awal dari pengabdian yang lebih panjang melalui ilmu pengetahuan, riset, dan kontribusi bagi masyarakat.